Pasokan Terancam, Harga Minyak Brent Diproyeksi Melesat ke US$ 125



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasokan energi global berada di bawah ancaman serius seiring memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah secara signifikan hingga akhir tahun 2026.

Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (2/9) pukul 16.23 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,34% ke posisi US$ 90,53 per barel, melonjak 10,04% dalam sepekan dan melesat 57,58% secara year-to-date (YTD).

Sejalan, harga minyak jenis Brent menguat 0,45% ke posisi US$ 95,07 per barel, menguat 9,29% secara mingguan dan meroket 56,16% sepanjang tahun berjalan ini.


Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengatakan, eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memaksa pasar memperhitungkan premi risiko pasokan.

Baca Juga: Tensi Geopolitik Memanas, Harga Minyak Berpeluang Bertahan di Atas US$ 90

Hambatan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian mendasar mengingat jalur strategis tersebut dilewati sekitar 20% dari pasokan minyak global.

Meskipun demikian, penggerak harga tidak hanya terbatas pada dinamika Selat Hormuz. Investor juga perlu mengamati persediaan komersial AS yang berada di bawah rata-rata lima tahun, kebijakan produksi OPEC+, aktivitas kilang, hingga arah permintaan dari China.

Di sisi lain, harga yang melonjak tinggi mulai menjadi faktor pembatas bagi konsumsi energi global. Kenaikan harga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia serta menekan volume permintaan komoditas.

"Saya masih melihat prospek minyak bullish, tetapi sangat volatil. Selama arus minyak dari Hormuz belum benar-benar normal dan konflik AS–Iran masih berpotensi meningkat, harga akan tetap mendapatkan premi geopolitik," kata Brahmantya kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Melihat tingginya sensitivitas pasar terhadap sentimen headline berita, Brahmantya mengingatkan para pelaku pasar agar tidak terburu-buru mengejar harga setelah terjadi kenaikan tajam (rally).

"Strategi yang lebih menarik tetap buy on weakness, dengan ukuran posisi yang lebih konservatif karena volatilitas masih tinggi," ujar Brahmantya.

Memasuki sisa tahun 2026, minyak diproyeksikan masih mempertahankan bias bullish akibat risiko gangguan pasokan fisik yang belum sepenuhnya teratasi.

Baca Juga: Reksadana Menguat pada Agustus, Investor Masih Perlu Waspadai Sentimen Global

Brahmantya memperkirakan pergerakan harga minyak jenis WTI berada di kisaran US$ 90–US$ 110 per barel, sementara jenis Brent diproyeksikan berada di rentang US$ 100–US$ 125 per barel.

Apabila ketegangan antara AS dan Iran semakin intensif serta gangguan di Selat Hormuz kian parah, harga Brent dinilai berpeluang kuat menembus batas atas US$ 125 per barel.

Sebaliknya, jika dicapai kesepakatan politik yang memulihkan lalu lintas kapal secara normal, harga minyak dapat terkoreksi dengan cepat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News