KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia anjlok pada perdagangan Kamis (25/6/2026), menyentuh level yang terakhir kali terlihat sebelum dimulainya perang Iran. Penurunan harga ini dipicu oleh ekspektasi lonjakan pasokan dari kawasan Timur Tengah yang berhasil menekan kekhawatiran pasar terkait permintaan global.
Baca Juga: Impor Emas China Turun 38%, Tapi Cadangan Emas Terus Bertambah Melansir
Reuters, Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus turun 51 sen, atau 0,7%, menjadi US$ 73,23 per barel pada pukul 12.01 GMT. Sementara itu, patokan Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), melemah 53 sen, atau 0,8%, menjadi US$ 69,81 per barel. Kedua patokan harga minyak mentah tersebut kini menyentuh level terendahnya sejak 27 Februari lalu. Menariknya, harga Brent untuk kontrak Agustus diperdagangkan lebih rendah dibandingkan kontrak September yang berada di level US$ 73,50 per barel. Struktur harga ini memberikan sinyal yang kuat bahwa pasokan jangka pendek di pasar sangat berlimpah.
Baca Juga: Volkswagen Cuan € 7,4 Miliar, Lepas Unit Diesel ke Bain Capital Aktivitas Selat Hormuz Berangsur Normal Menteri Energi AS, Chris Wright, dalam sebuah forum menyatakan bahwa aliran pengiriman minyak yang melewati Selat Hormuz kini sudah mendekati level sebelum dimulainya perang Iran. Setidaknya, terdapat 20 juta barel minyak yang telah keluar dari selat tersebut dalam 24 jam terakhir. Meski begitu, Wright menambahkan bahwa butuh waktu beberapa minggu agar situasi kembali normal sepenuhnya, mengingat selat tersebut masih harus dibersihkan dari ranjau laut. "Sebagian besar lonjakan arus dari Teluk saat ini berasal dari kapal-kapal yang keluar meninggalkan Selat Hormuz," ujar analis UBS, Giovanni Staunovo. Staunovo menegaskan, peningkatan signifikan untuk arus kapal yang masuk (inbound) masih membutuhkan pemulihan kepercayaan dari sektor pelayaran. Hal ini mencakup jaminan keamanan dan pembersihan ranjau laut agar premi asuransi pengiriman dapat kembali normal.
Baca Juga: BlackBerry Kerek Naik Proyeksi Pendapatan Hingga US$ 621 juta Sanksi Iran Melonggar, Harga Fisik Minyak Tertekan Meningkatnya pasokan dari Timur Tengah, ditambah persiapan Iran untuk menggenjot penjualan usai mendapat penangguhan sementara dari sanksi AS, telah menekan harga kargo minyak mentah fisik di seluruh dunia. Meski demikian, Goldman Sachs memproyeksikan tidak akan ada lonjakan produksi yang terlalu besar dari Iran, sekalipun pelonggaran sanksi diperpanjang melewati tenggat waktu 21 Agustus. Dari sisi permintaan, bank investasi tersebut memperkirakan China akan tetap menjadi pembeli utama minyak mentah Iran, mengingat sanksi dari Uni Eropa dan Inggris terhadap minyak dan kapal Iran masih berlaku. Kesepakatan yang dicapai pekan lalu untuk mengakhiri perang AS-Israel yang meletus pada 28 Februari telah memungkinkan lalu lintas di Selat Hormuz kembali beroperasi. Kesepakatan tersebut menetapkan masa negosiasi selama 60 hari untuk menyelesaikan berbagai isu yang lebih berat, seperti program nuklir Iran. Menteri Energi AS menegaskan, minyak akan terus mengalir melalui selat tersebut meskipun kesepakatan nantinya gagal dipertahankan. Ia juga meyakini bahwa Iran tidak akan mampu menutup kembali jalur tersebut. Di tengah dinamika ini, UBS memangkas proyeksi harga minyak Brent menjadi US$ 85 per barel untuk akhir September dan akhir Desember tahun ini, serta US$ 80 per barel untuk akhir Maret dan akhir Juni 2027.
Baca Juga: Irak Ancam Keluar dari OPEC Jika Kuota Produksi Tak Ditambah Irak Ancam Keluar dari OPEC Kabar mengejutkan juga datang dari internal organisasi negara pengekspor minyak (OPEC).
Menurut sumber yang mengetahui kebijakan perminyakan Irak kepada Reuters, negara tersebut tengah mempertimbangkan segala opsi yang ada, termasuk wacana keluar dari keanggotaan OPEC, apabila kuota produksi mereka tidak dinaikkan secara signifikan. Prospek keluarnya Irak ini menyusul langkah mengejutkan Uni Emirat Arab (UEA) yang telah lebih dulu hengkang dari grup tersebut pada tahun ini. Jika terealisasi, hal ini akan menjadi pukulan telak, mengingat Irak adalah satu dari lima anggota pendiri dan OPEC sendiri dibentuk di ibu kota negara tersebut. Sementara itu dari sisi geopolitik Eropa Timur, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Kamis (25/6) menyatakan bahwa militer Ukraina telah menyerang sebuah depot minyak di wilayah Krasnodar, Rusia, serta dua kilang minyak di wilayah Ufa, yang berjarak 1.500 km dari perbatasan Ukraina.