KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pengembangan lahan jagung yang jauh dari pusat industri, menjadi sumber masalah pangan dan pakan nasional, baik bagi petani, maupun kalangan industri. Akibatnya, hasil panen petani tak mampu diserap pasar secara luas. Kebijakan ekspor jagung oleh Kementerian Pertanian (Kemtan) ke Filipina, karenanya, menjadi pertanyaan. Bukan hal yang patut dibanggakan. Apalagi, hingga saat ini pun kebutuhan dalam negeri untuk jagung masih mengalami defisit. “Jadi, sebenarnya tidak tepat satu klaim yang lalu seolah jagung sudah surplus, lalu kita ekspor. Nggak. Ekspor jagung itu sudah hal yang sangat rutin,” tutur Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Dwi Andreas, dalam keterangannya Senin (20/8).
Pasokan untuk dalam negeri terbatas, ekspor jagung masih jalan terus
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebijakan pengembangan lahan jagung yang jauh dari pusat industri, menjadi sumber masalah pangan dan pakan nasional, baik bagi petani, maupun kalangan industri. Akibatnya, hasil panen petani tak mampu diserap pasar secara luas. Kebijakan ekspor jagung oleh Kementerian Pertanian (Kemtan) ke Filipina, karenanya, menjadi pertanyaan. Bukan hal yang patut dibanggakan. Apalagi, hingga saat ini pun kebutuhan dalam negeri untuk jagung masih mengalami defisit. “Jadi, sebenarnya tidak tepat satu klaim yang lalu seolah jagung sudah surplus, lalu kita ekspor. Nggak. Ekspor jagung itu sudah hal yang sangat rutin,” tutur Pengamat Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Dwi Andreas, dalam keterangannya Senin (20/8).