ORANG sering menyebut pastel sebagai makanan pasaran. Maklum, makanan ringan ini bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional, di warung-warung kecil sampai dalam mal mewah. Namun, banyak orang meraup untung besar dari bisnis kue ini. Salah satu adalah Gracia Wenni, pendiri gerai pastel Tasty. Gracia mengaku awalnya ia hanya iseng saat mulai berbisnis pastel. Waktu itu, ia penasaran ingin membuat pastel yang enak. "Saya belajar otodidak, baca-baca di buku menu, terus saya coba bikin," kenangnya. Lantaran tekun, Gracia akhirnya berhasil membuat pastel yang rasanya oke. Gracia membuat pastel berisi ayam dan taburan keju. Setelah itu, ia memberanikan diri memasarkan pastelnya, walaupun penjualannya masih terbatas. Di saat yang sama, ia juga terus mengembangkan rasa pastelnya. Maklum, ia ingin pastel bikinannya memiliki rasa yang berbeda dengan pastel lainnya. Gracia mengaku butuh satu tahun hingga berhasil membuat pastel yang memiliki rasa istimewa ini. Perlahan tapi pasti, kelezatan pastel Gracia menyebar dari mulut ke mulut. Pelanggannya pun terus bertambah. Di bulan Februari 2008, Gracia memutuskan mendirikan toko di bilangan Karet Tengsin, Jakarta. Ia memberi nama pastelnya dengan merek Tasty. Ide nama ini muncul dari para pelanggannya. Menurut Gracia, para pelanggannya sering memuji kulit pastelnya yang renyah dan rasanya yang gurih. "Karena pelanggan banyak yang komentar begitu maka saya beri nama Tasty," jelasnya. Selain membuka toko, Gracia juga berusaha memperluas pasarnya. Kebetulan, ia pernah bekerja di perusahaan periklanan. Selain itu, Gracia juga berprofesi sebagai agen salah satu surat kabar nasional. Ia memanfaatkan jaringannya di periklanan dan agen surat kabar itu untuk mempromosikan pastelnya. Plus, "Saya mempekenalkan pastel ini ke teman-teman saya. Mereka kemudian membawa pastel saya ke kantornya," jelasnya. Hasilnya, pastel Tasty pun jadi makin top. Gracia juga mulai mendapat pelanggan dari kalangan kantoran. Beberapa instansi, seperti BCA, BRI, BII, dan Departemen Kesehatan kini sudah jadi pelanggan tetapnya. Skala bisnis Gracia pun kian besar. Awalnya ia hanya dibantu dua karyawan, tapi kini ia mempekerjakan sekitar 20 orang. Tiap hari, ia bisa membuat 700 pastel. "Setiap hari setidaknya harus stok 500 pastel," paparnya. Gracia juga mulai memperbanyak jenis kue yang ia jual. Kini, ia menjual sekitar 34 jenis kue. Antara lain risol, lumpia, bolu kukus, dan kue lumpur. Kue-kue itu ia jajakan Rp 3.000 per buah. Dengan harga jual itu, setiap bulan, Gracia bisa meraup omzet rata-rata Rp 80 juta sampai Rp 150 juta. "Margin keuntungan saya sekitar 30%," katanya. Kesuksesan Gracia membuat banyak orang tertarik. Mereka mulai mendekatinya agar diizinkan menjadi mitra waralaba. Tapi, "Saya belum mau buka waralaba karena masih fokus menjaga kualitas produk," jelasnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Pastel Istimewa Gracia Menghasilkan Omzet Melimpah
ORANG sering menyebut pastel sebagai makanan pasaran. Maklum, makanan ringan ini bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional, di warung-warung kecil sampai dalam mal mewah. Namun, banyak orang meraup untung besar dari bisnis kue ini. Salah satu adalah Gracia Wenni, pendiri gerai pastel Tasty. Gracia mengaku awalnya ia hanya iseng saat mulai berbisnis pastel. Waktu itu, ia penasaran ingin membuat pastel yang enak. "Saya belajar otodidak, baca-baca di buku menu, terus saya coba bikin," kenangnya. Lantaran tekun, Gracia akhirnya berhasil membuat pastel yang rasanya oke. Gracia membuat pastel berisi ayam dan taburan keju. Setelah itu, ia memberanikan diri memasarkan pastelnya, walaupun penjualannya masih terbatas. Di saat yang sama, ia juga terus mengembangkan rasa pastelnya. Maklum, ia ingin pastel bikinannya memiliki rasa yang berbeda dengan pastel lainnya. Gracia mengaku butuh satu tahun hingga berhasil membuat pastel yang memiliki rasa istimewa ini. Perlahan tapi pasti, kelezatan pastel Gracia menyebar dari mulut ke mulut. Pelanggannya pun terus bertambah. Di bulan Februari 2008, Gracia memutuskan mendirikan toko di bilangan Karet Tengsin, Jakarta. Ia memberi nama pastelnya dengan merek Tasty. Ide nama ini muncul dari para pelanggannya. Menurut Gracia, para pelanggannya sering memuji kulit pastelnya yang renyah dan rasanya yang gurih. "Karena pelanggan banyak yang komentar begitu maka saya beri nama Tasty," jelasnya. Selain membuka toko, Gracia juga berusaha memperluas pasarnya. Kebetulan, ia pernah bekerja di perusahaan periklanan. Selain itu, Gracia juga berprofesi sebagai agen salah satu surat kabar nasional. Ia memanfaatkan jaringannya di periklanan dan agen surat kabar itu untuk mempromosikan pastelnya. Plus, "Saya mempekenalkan pastel ini ke teman-teman saya. Mereka kemudian membawa pastel saya ke kantornya," jelasnya. Hasilnya, pastel Tasty pun jadi makin top. Gracia juga mulai mendapat pelanggan dari kalangan kantoran. Beberapa instansi, seperti BCA, BRI, BII, dan Departemen Kesehatan kini sudah jadi pelanggan tetapnya. Skala bisnis Gracia pun kian besar. Awalnya ia hanya dibantu dua karyawan, tapi kini ia mempekerjakan sekitar 20 orang. Tiap hari, ia bisa membuat 700 pastel. "Setiap hari setidaknya harus stok 500 pastel," paparnya. Gracia juga mulai memperbanyak jenis kue yang ia jual. Kini, ia menjual sekitar 34 jenis kue. Antara lain risol, lumpia, bolu kukus, dan kue lumpur. Kue-kue itu ia jajakan Rp 3.000 per buah. Dengan harga jual itu, setiap bulan, Gracia bisa meraup omzet rata-rata Rp 80 juta sampai Rp 150 juta. "Margin keuntungan saya sekitar 30%," katanya. Kesuksesan Gracia membuat banyak orang tertarik. Mereka mulai mendekatinya agar diizinkan menjadi mitra waralaba. Tapi, "Saya belum mau buka waralaba karena masih fokus menjaga kualitas produk," jelasnya.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News