KONTAN.CO.ID - Tiga pasukan penjaga perdamaian PBB tewas di Lebanon selatan pekan ini, menjadikan konflik terbaru antara Israel dan Hezbollah sebagai salah satu episode paling mematikan bagi misi perdamaian yang telah berlangsung puluhan tahun. Melansir
Reuters pada Selasa (31/3/2026), misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) pertama kali dikerahkan pada 1978 dan tetap bertahan dalam berbagai konflik, termasuk perang pada 2024 ketika pos-pos mereka kerap menjadi sasaran tembakan.
Baca Juga: PBB Nilai UU Hukuman Mati Israel Langgar Hukum Internasional Sesuai keputusan Dewan Keamanan PBB, mandat UNIFIL akan berakhir pada akhir 2026 dan penarikan pasukan dijadwalkan pada 2027. Hingga Maret, UNIFIL memiliki 7.505 personel dari 47 negara. Kronologi Tewasnya Pasukan Perdamaian Ketiga korban, yang seluruhnya berasal dari Indonesia, tewas dalam dua insiden terpisah: Dua personel tewas akibat ledakan di pinggir jalan yang menghantam konvoi mereka di dekat Bani Hayyan pada Senin.
Baca Juga: Produksi Minyak OPEC Anjlok ke Level Terendah Sejak Pandemi, Hormuz Jadi Pemicu Satu personel lainnya tewas setelah proyektil menghantam pangkalan UNIFIL di dekat desa Adchit al-Qusayr pada Minggu. Penyelidikan awal masih berlangsung. Duta Besar Israel untuk PBB menyebut ledakan tersebut disebabkan oleh perangkat milik Hezbollah. Sementara pihak UNIFIL meminta Israel menyerahkan bukti untuk mendukung klaim tersebut. Seorang juru bicara UNIFIL menyebut situasi di lapangan sangat berbahaya, dengan tembakan proyektil yang terjadi bolak-balik antara militer Israel dan kelompok bersenjata non-negara, yang diduga Hezbollah.
Baca Juga: Iran Kini Targetkan Perusahaan AS Microsoft hingga Boeing, Konflik Teluk Kian Memanas Mandat dan Tantangan UNIFIL UNIFIL dibentuk setelah invasi Israel ke Lebanon pada 1978, dengan mandat awal memastikan penarikan pasukan Israel dan membantu pemulihan otoritas Lebanon di wilayah selatan. Setelah perang 2006, mandatnya diperluas melalui Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB, mencakup:
- Memantau gencatan senjata
- Mendukung penyebaran tentara Lebanon di selatan
- Membantu penegakan larangan senjata ilegal
Namun, konflik aktif saat ini membuat patroli lapangan semakin terbatas.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Selasa (31/3), Brent Melewati US$118 Akibat Konflik Iran Mengapa Misi Akan Berakhir?
Perubahan besar dalam dinamika keamanan Lebanon, terutama setelah perang 2024 yang melemahkan Hezbollah dan munculnya pemerintahan baru Lebanon, menjadi alasan utama berakhirnya mandat UNIFIL. Amerika Serikat (AS) dan Prancis sebelumnya menyepakati perpanjangan terakhir mandat ini pada Agustus lalu. Israel menilai, UNIFIL gagal menjalankan misinya karena tidak mampu mencegah Hezbollah berkembang menjadi ancaman regional. Dalam konflik terbaru, salah satu tujuan Israel adalah mengamankan wilayah antara perbatasan dan Sungai Litani yang merupakan area operasi UNIFIL.