Paus Leo Makin Lantang, Soroti Ketimpangan saat Kunjungan ke Angola



KONTAN.CO.ID - Pope Leo memulai kunjungan ke Angola pada Sabtu (18/4/2026), dalam rangkaian tur Afrika yang semakin menegaskan perannya sebagai suara global yang lebih tegas.

Dalam lawatan ini, ia diperkirakan akan menyoroti isu eksploitasi sumber daya alam di negara kaya minyak tersebut.

Baca Juga: Klaim Donald Trump Negosiasi Membuahkan Hasil, AS Rebut Material Nuklir Iran


Melansir Reuters, kunjungan ke Angola menjadi bagian ketiga dari tur empat negara di Afrika. Paus Leo tiba dari Kamerun, setelah sebelumnya menyampaikan kritik keras terhadap kondisi dunia yang disebutnya “dirusak oleh segelintir tiran”.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan dengan Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya melontarkan kritik terhadap Paus Leo terkait sikapnya terhadap perang Iran.

Sebelum meninggalkan Kamerun, Paus Leo memimpin misa perpisahan di ibu kota Yaounde.

Dalam khotbahnya, ia mengajak umat untuk tetap memiliki harapan di tengah berbagai tantangan, termasuk konflik yang masih berlangsung di wilayah berbahasa Inggris di negara tersebut.

“Dalam setiap badai, Dia datang kepada kita dan berkata: Aku bersamamu, jangan takut,” ujar Paus Leo.

Baca Juga: AS Beri Kelonggaran Lagi, Beli Minyak Rusia Bisa Sampai 16 Mei

Soroti kemiskinan di negara kaya minyak

Di Angola, Paus Leo dijadwalkan bertemu Presiden Joao Lourenco sebelum memberikan pidato kepada para pemimpin politik setempat.

Meski dikenal sebagai salah satu produsen minyak utama di Afrika sub-Sahara dengan sektor energi menyumbang sekitar 95% ekspor Angola masih menghadapi tingkat kemiskinan yang tinggi.

Lebih dari 30% penduduknya hidup dengan penghasilan di bawah US$ 2,15 per hari, menurut data Bank Dunia.

Negara dengan populasi sekitar 36,6 juta jiwa itu juga memiliki mayoritas penduduk beragama Katolik.

Baca Juga: Donald Trump: Ada Sejumlah Dokumen Tentang UFO yang Menarik

Selama tur Afrika yang berlangsung 10 hari ini, Paus Leo semakin vokal dalam menyuarakan isu-isu global, mulai dari konflik bersenjata hingga ketimpangan ekonomi.

Kehadirannya disambut antusias di berbagai negara yang dikunjungi. Di Douala, Kamerun, sekitar 120.000 orang menghadiri misa yang dipimpinnya, dengan masyarakat berjejer di sepanjang jalan untuk menyambut kedatangannya.

Tur ini menandai perubahan gaya kepemimpinan Paus Leo yang kini tampil lebih tegas dalam merespons berbagai isu global, termasuk ketidakadilan dan dampak konflik terhadap masyarakat dunia.