Paus: Sangat menyedihkan jika orang kaya diberi prioritas untuk vaksin corona



KONTAN.CO.ID - KOTA VATIKAN. Paus Fransiskus menegaskan, negara-negara kaya seharusnya tidak menimbun vaksin virus corona baru dan hanya memberikan dana talangan terkait pandemi kepada perusahaan yang berkomitmen membantu yang paling membutuhkan. 

“Sangat menyedihkan jika orang kaya diberi prioritas untuk vaksin Covid-19. Akan menyedihkan jika vaksin menjadi milik bangsa ini atau bangsa itu, jika tidak universal dan untuk semua orang,” kata Paus Fransiskus, Rabu (19/8), dalam audiensi mingguannya seperti dikutip Reuters.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Selasa (18/8), negara mana pun yang menimbun vaksin virus corona, dengan mengecualikan yang lain, akan memperparah pandemi Covid-19.


Baca Juga: Kasus virus corona tembus 22 juta, ini 10 negara dengan infeksi tertinggi

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang memperingatkan "nasionalisme vaksin", mendesak negara-negara untuk bergabung dengan pakta global dengan batas waktu 31 Agustus untuk berbagi vaksin kepada negara berkembang.

Lebih dari 150 vaksin sedang dalam pengembangan, lalu sebanyak dua lusin dalam pengujian terhadap manusia dan beberapa sedang dalam uji coba tahap akhir.

Paus Fransiskus menyatakan, akan menjadi "skandal" jika pemerintah membagikan uang bailout terkait pandemi Covid-19 hanya untuk industri tertentu.

Menurut pemimpin tertinggi gereja Katolik ini, kriteria perusahaan yang menerima bantuan haruslah yang "berkontribusi pada inklusi orang-orang yang biasanya dikucilkan (dari masyarakat), membantu yang paling membutuhkan, serta untuk kebaikan bersama dan menjaga lingkungan".

Baca Juga: Australia bakal distribusikan vaksin corona gratis ke 25 juta penduduk

"Pandemi adalah krisis dan seseorang tidak pernah keluar dari krisis untuk kembali seperti sebelumnya," ujar Paus Fransiskus. "Apakah kita pergi lebih baik, atau kita pergi lebih buruk. Kita harus pergi lebih baik untuk mengatasi ketidakadilan sosial dan degradasi lingkungan," imbuh dia.

Editor: S.S. Kurniawan