Paylater Perbankan Tumbuh Subur di Tengah Lesunya Daya Beli, Ungguli Kredit



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bisnis buy now pay later (BNPL) alias paylater perbankan terpantau kian semarak, bahkan menjadi salah satu motor pertumbuhan kredit ritel bagi sebagian bank. 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, baki debet paylater perbankan tumbuh hingga 37,72% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 30,1 triliun per Mei 2026, melaju dari pertumbuhan 37,29% yoy pada bulan sebelumnya. Secara keseluruhan, produk kredit paylater perbankan dalam periode ini tercatat sebesar 0,34%. 

Capaian ini mencerminkan laju kinerja yang jauh mengungguli kredit konsumsi perbankan. Hingga Mei 2026, kredit konsumsi bank hanya tumbuh 5,89% YoY, melambat dari pertumbuhan 6,13% yoy pada bulan sebelumnya.


Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menyebut, tren tersebut menunjukkan adanya pergeseran perilaku pembiayaan masyarakat. Yang menjadi masalah, musabab utama pergeseran ini adalah tekanan daya beli yang membuat rumah tangga mencari sumber likuiditas jangka pendek untuk mempertahankan konsumsi.

Baca Juga: OJK Ungkap 19 Perusahaan Penjaminan Sudah Penuhi Modal Minimum 2026

Tekanan daya beli memang salah satunya terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen yang per Mei 2026 kembali melemah menjadi 120,9 dari posisi 123 pada bulan sebelumnya.

“Itu mengindikasi optimisme masyarakat mulai turun,” kata Rizal kepada Kontan, Selasa (7/7/2026). 

Di balik pertumbuhan tersebut, Rizal bilang ada risiko yang perlu diantisipasi: paylater jangan sampai berubah fungsi dari instrumen kemudahan transaksi menjadi tak ubahnya utang untuk menutup kebutuhan hidup. 

Karena itu, menurutnya bank perlu memperketat credit scoring, mengoptimalkan pemanfaatan SLIK OJK, memantau multiple borrowing lintas platform, dan menjaga kualitas kredit di tengah perlambatan ekonomi.

Baca Juga: OJK Sebut Perusahaan Pergadaian Dapat Lakukan Pinjaman Berbasis Dokumen

“Pertumbuhan yang tinggi tanpa pengelolaan risiko yang baik justru dapat meningkatkan potensi kredit bermasalah di kemudian hari,” tekannya.

Di level perbankan, Allo Bank juga mencatatkan kinerja paylater yang apik. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengungkapkan, outstanding paylater Allo Bank terkini tumbuh lebih dari 20% yoy, pun jumlah penggunanya telah tembus 2,3 juta. Dengan capaian itu, paylater masih menjadi salah satu motor pertumbuhan kredit ritel digital bank. 

Destya bilang kinerja ini salah satunya dipengaruhi oleh kemudahan akses. “Proses pengajuan yang sepenuhnya digital, persetujuan yang cepat, serta integrasi langsung dengan aplikasi menjadi nilai tambah utama,” tegas dia. 

Di luar itu, menurutnya yang tak kalah penting ialah perluasan penggunaan paylater dalam berbagai kebutuhan transaksi harian yang kian masif. Itu juga menjadi nilai tambah karena produk ini memberikan fleksibilitas pengelolaan cashflow bagi nasabah.

Kendati begitu, di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih menantang, Destya bilang nasabah juga makin selektif dalam menggunakan fasilitas pembiayaan. Pun, ia memastikan pihaknya terus mengembangkan paylater dengan pendekatan yang bertanggung jawab. 

Tak jauh berbeda, Bank Central Asia (BCA) juga memandang pertumbuhan paylater perbankan sejatinya didorong oleh kebutuhan transaksi ritel serta mobilitas dan konsumsi nasabah. Misalnya, untuk kebutuhan pemesanan tiket kereta dan pesawat. 

Baca Juga: OJK Terima 45.884 Pengaduan Lewat Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen per Juni 2026

Hingga kuartal I-2026, BCA mencatatkan outstanding paylater sebesar Rp 342 miliar dengan jumlah pengguna mencapai 192 ribu nasabah atau tumbuh 9% yoy. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn juga memastikan kualitasnya tetap terjaga. 

Pada prinsipnya, kata Hera, produk paylater merupakan salah satu upaya bank menghadirkan layanan pembayaran yang fleksibel. Di saat yang sama, nasabah juga dapat memastikan keuangannya terkelola dengan baik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News