PBB Mengatakan Kelaparan akan Segera Terjadi di Gaza Palestina



KONTAN.CO.ID - GAZA/JERUSALEM. Pengiriman bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke Gaza dihentikan karena kekurangan bahan bakar dan komunikasi terputus pada Jumat (17/11).

Situasi ini kian memperdalam penderitaan ribuan warga Palestina yang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal saat pasukan Israel memerangi militan Hamas di daerah kantong tersebut.

Program Pangan Dunia (WFP) PBB mengatakan bahwa warga sipil menghadapi "kemungkinan besar akan kelaparan" karena kurangnya pasokan makanan.


Para pejabat internasional mengatakan, krisis kemanusiaan bagi 2,3 juta penduduk Gaza memasuki fase baru yang lebih mengerikan saat perang memasuki minggu ketujuh.

Baca Juga: RS Indonesia di Gaza Tak Bisa Beroperasi Saat Banyak Penduduk Palestina Butuh Bantuan

Israel telah bersumpah untuk memusnahkan kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza, sejak para pejuangnya menewaskan 1.200 orang dan menyeret 240 sandera dalam sebuah serangan mematikan pada tanggal 7 Oktober.

Sejak saat itu, Israel telah mengebom sebagian besar wilayah Gaza hingga menjadi puing-puing, memerintahkan pengusiran penduduk di seluruh bagian utara daerah kantong tersebut, dan membuat sekitar dua pertiga penduduk Gaza kehilangan tempat tinggal.

Otoritas kesehatan Gaza yang dianggap terpercaya oleh PBB mengatakan bahwa lebih dari 11.500 orang telah dikonfirmasi tewas, 40% di antaranya adalah anak-anak, dan banyak lainnya yang terjebak di bawah reruntuhan.

Mereka belum dapat memperbarui jumlah tersebut selama beberapa hari karena kurangnya komunikasi.

Di rumah sakit terbesar di Gaza, Al Shifa, yang menjadi fokus perhatian dunia internasional minggu ini karena menjadi target utama serangan darat.

Baca Juga: Berbagai Perusahaan Indonesia Terus Salurkan Bantuan Kemanusiaan ke Gaza, Palestina

Israel mengatakan bahwa pasukannya telah menemukan sebuah kendaraan yang berisi sejumlah besar senjata, dan sebuah bangunan bawah tanah yang mereka sebut sebagai sebagai terowongan terowongan Hamas, setelah dua hari menggeledah tempat tersebut.

Editor: Yudho Winarto