PBID Bidik Pasar UMKM Mamin untuk Dongkrak Penjualan Kemasan Plastik pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten produsen kemasan plastik PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan penjualan kemasan pada semester II-2026. Langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi industri kemasan yang masih menghadapi sejumlah tantangan.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Panca Budi Idaman Tbk, Lukman Hakim mengatakan, salah satu tantangan utama yang masih membayangi industri kemasan pada paruh kedua tahun ini adalah fluktuasi nilai tukar rupiah.

"Sebagai antisipasi, kami sudah melakukan hedging sejak pembelian bahan baku (raw material)," jelasnya kepada Kontan, Kamis (9/7/2026).


Fluktuasi kurs menjadi perhatian bagi pelaku industri kemasan karena sebagian bahan baku masih memiliki keterkaitan dengan harga global. Kondisi tersebut dapat memengaruhi struktur biaya produksi apabila tidak dikelola dengan baik.

Baca Juga: Wiraraja Tangguh Gaet Investasi US$ 9,3 Juta dari Perusahaan Rusia

Di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, PBID akan lebih fokus memperkuat pasar dalam negeri pada sisa tahun ini. Salah satu segmen yang menjadi perhatian adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor makanan dan minuman (mamin), serta pasar tradisional.

"Pasar konsumsi domestik dinilai memiliki daya tahan yang kuat dengan permintaan yang stabil," jelas Lukman.

Menurut Lukman, strategi memperkuat pasar domestik juga menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk mempertahankan pangsa pasar (market share) di industri kemasan plastik nasional. Dengan menjaga posisi pasar, PBID berharap dapat mempertahankan tren peningkatan volume penjualan.

Baca Juga: Inaplas Sebut Pengamanan Perdagangan Bahan Baku Plastik Perlu Dipercepat

Selain menjaga pasar yang sudah ada, PBID juga terus melakukan ekspansi pasar serta meningkatkan kualitas produk dan inovasi sepanjang semester II-2026. Perusahaan turut mengandalkan efisiensi operasional sebagai langkah menghadapi tekanan biaya yang masih terjadi di industri.

"Kami optimistis terhadap prospek usaha hingga akhir tahun, khususnya karena kami mendukung sektor mamin," imbuh Lukman.

Sebelumnya, Indonesia Packaging Federation (IPF) menyebut pelaku industri kemasan cenderung menerapkan strategi yang lebih konservatif pada sisa tahun ini. Sikap tersebut dipengaruhi oleh sejumlah tantangan, mulai dari ketidakpastian harga bahan baku, risiko pelemahan daya beli masyarakat, hingga kewajiban pemenuhan regulasi lingkungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News