KONTAN.CO.ID - Perekonomian Singapura mencatat pertumbuhan solid pada kuartal IV-2025. Berdasarkan data pendahuluan pemerintah Singapura yang dirilis Jumat (2/1/2026), produk domestik bruto (PDB) Singapura tumbuh 5,7% secara tahunan (
year on year/YoY). Secara kuartalan, PDB Singapura tumbuh 1,9% secara
quarter on quarter (QoQ) setelah disesuaikan secara musiman. Dengan capaian tersebut, ekonomi Singapura sepanjang 2025 tumbuh 4,8%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 4,4% pada 2024.
Baca Juga: Ekspor Bangkit, PMI Manufaktur Korea Selatan Kembali Ekspansi di Desember Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam pesan Tahun Barunya menyampaikan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi 2025 lebih kuat dari perkiraan awal, mempertahankan laju pertumbuhan tersebut pada 2026 akan menjadi tantangan. Menurut Wong, kinerja ekonomi yang solid pada 2025 ditopang oleh penerapan tarif Amerika Serikat (AS) yang lebih lambat dan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, serta lonjakan permintaan semikonduktor dan elektronik yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI). Data pendahuluan yang dirilis kali ini belum mencantumkan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk 2026. Namun sebelumnya, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura memproyeksikan pertumbuhan PDB 2026 berada di kisaran 1,0% hingga 3,0%. Pada November lalu, kementerian tersebut telah merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 menjadi sekitar 4,0%, dari sebelumnya di rentang 1,5%–2,5%. Sementara itu, Otoritas Moneter Singapura (MAS) pada tinjauan kebijakan Oktober 2025 memutuskan mempertahankan kebijakan moneter, seiring ketahanan ekonomi di tengah tekanan tarif dari AS. Tinjauan kebijakan moneter berikutnya dijadwalkan berlangsung pada akhir Januari 2026.
Baca Juga: China Kenakan Tarif Tinggi Impor Daging Sapi, Ini Tujuannya Saat ini, ekspor Singapura ke AS dikenakan tarif sebesar 10%, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya. Meski demikian, tarif sektoral masih menjadi perhatian, termasuk rencana pengenaan tarif hingga 100% untuk obat-obatan bermerek.
Kebijakan tarif sektoral yang lebih luas berpotensi menekan permintaan ekspor utama Singapura, terutama pada sektor semikonduktor, elektronik konsumen, dan farmasi. Bank sentral Singapura mencatat ketiga sektor tersebut menyumbang sekitar 40% dari total ekspor Singapura ke Amerika Serikat.