Pefindo Catat Penerbitan Obligasi Korporasi Rp 59,4 Triliun Kuartal I-2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penerbitan surat utang (obligasi) korporasi pada kuartal I 2026 masih menunjukkan kinerja yang cukup solid, meski diwarnai dinamika kenaikan yield dalam beberapa waktu terakhir.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencermati realisasi penerbitan surat utang korporasi di awal tahun masih cukup semarak. Tercatat pada kuartal I 2026, nilainya mencapai Rp 59,4 triliun atau tumbuh 26,97% dibandingkan realisasi kuartal I 2025 yang sebesar Rp 46,8 triliun.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan nilai jatuh tempo pada periode yang sama sebesar Rp 26,88 triliun, sehingga mencerminkan adanya penambahan pembiayaan bersih dari pasar obligasi.


"Perusahaan sejauh ini banyak memanfaatkan yield yang relatif masih rendah selama dua bulan pertama tahun 2026 ini untuk akhirnya meraih pendanaan di pasar surat utang," jelas Chief Economist Pefindo Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (15/4/2026).

Baca Juga: IHSG Naik 0,44% ke 7.709 Sesi I Rabu (15/4), Top Gainers: Saham AADI, MDKA, INCO

Pefindo mencatat, penerbitan pada kuartal I 2026 setara dengan sekitar 20,88% dari total realisasi sepanjang 2025. 

Dari total tersebut, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk mendominasi dengan nilai Rp 52,4 triliun, meningkat 12,96% secara tahunan dari Rp 46,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, instrumen MTN menunjukkan lonjakan signifikan. Pada kuartal I 2026, penerbitan MTN mencapai Rp 7,0 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp 0,4 triliun pada kuartal I 2025.

Di sisi lain, belum terdapat penerbitan efek utang lainnya, seperti sekuritisasi dan surat berharga komersial (SBK), sepanjang periode tersebut.

Lebih lanjut pada kuartal I 2026 ini penerbitan surat utang korporasi masih didominasi oleh sektor pembiayaan, perusahaan induk, dan perbankan.

Pembiayaan khususnya konsumtif otomotif (multifinance) menempati posisi teratas dengan total penerbitan mencapai Rp 10,7 triliun. Di posisi kedua, sektor perusahaan induk (holding) mencatatkan total emisi sebesar Rp 9,2 triliun, yang mana sekitar Rp 7 triliun-nya dari Danantara. 

Adapun sektor perbankan berada di peringkat ketiga dengan total penerbitan Rp 8,7 triliun.

"Multifinance ini biasanya memang menjadi industri yang termasuk dalam top lima penerbitan sektor korporasi dari tahun ke tahun. Multifinance ini akan cenderung untuk menjaga proporsi antara sumber pendanaannya dari perbankan dan juga yang mereka ambil dari pasar surat utang korporasi," jelas Suhindarto.

Terakhir, dicatat pula selama periode Januari hingga Maret 2026 ini, paling banyak surat utang korporasi yang diterbitkan dalam tenor lima tahun, kemudian diikuti satu tahun, dan juga tiga tahun.

Baca Juga: Harga Naik Tajam, Saham KONI dan BAPA Masuk Radar UMA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News