KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan kredit korporasi meningkat pada kuartal III-2026. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat indikator
net rating action turun menjadi minus 8 pada periode tersebut, dari minus 1 pada kuartal sebelumnya. Kepala Divisi Riset Ekonomi sekaligus
Chief Economist Pefindo, Suhindarto mengatakan, meningkatnya aksi penurunan peringkat membuat indikator
net rating action perusahaan yang diperingkat Pefindo melemah pada kuartal III-2026. “Sepanjang kuartal III kemarin, dari sisi
rating action ada tiga yang
upgrade dan 11 yang
downgrade. Ini membuat indikator
net rating action Pefindo menurun dari sebelumnya minus satu menjadi minus delapan,” ujar Suhindarto dalam webinar bertajuk Analyst Gathering IV-2026 yang diselenggarakan Pefindo, Rabu (21/10/2026).
Berdasarkan sektor industri, penurunan peringkat paling banyak terjadi pada perusahaan konstruksi dan rekayasa. Sektor ini mencatat delapan aksi
downgrade yang melibatkan empat perusahaan. Selain itu, terdapat dua aksi penurunan peringkat pada sektor perbankan dan satu aksi pada sektor mesin berat dan barang modal. Sementara itu, tiga aksi
upgrade melibatkan dua perusahaan, masing-masing dari sektor pengelola properti serta konstruksi dan rekayasa. Dengan demikian, jumlah aksi penurunan peringkat pada kuartal III-2026 jauh lebih besar dibandingkan kenaikan peringkat.
Baca Juga: Pefindo Catat Mandat Obligasi Korporasi Rp 56,19 Triliun hingga September 2026 Secara kumulatif, indikator
net rating action Pefindo tercatat minus 9 hingga kuartal III-2026. Dalam periode yang sama, terdapat enam aksi
upgrade dan 15 aksi
downgrade. Penurunan indikator tersebut memperlihatkan bahwa aksi penurunan peringkat masih mendominasi sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Selain itu, Pefindo mencatat tingkat afirmasi peringkat (
affirmation rate) turun menjadi 85% hingga kuartal III-2026, dibandingkan sekitar 89% pada 2025. Tingkat afirmasi menunjukkan proporsi peringkat yang dipertahankan terhadap keseluruhan aksi pemeringkatan. Pefindo juga mencatat pelebaran
negative bias, yakni meningkatnya proporsi perusahaan dengan prospek peringkat negatif atau berstatus
creditwatch negative. Kondisi ini menunjukkan risiko penurunan peringkat masih perlu dicermati di tengah tekanan yang dihadapi dunia usaha. Meski demikian, perusahaan dengan peringkat
investment grade masih mendominasi portofolio perusahaan yang diperingkat Pefindo. Namun, proporsinya sedikit menurun dibandingkan kuartal III-2025.
Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi Turun 14,54%, Pefindo Ungkap Penyebabnya Di sisi lain, tekanan terhadap profil kredit korporasi berlangsung di tengah kondisi pendanaan yang masih menantang. Pefindo menyoroti tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang berada di kisaran 5,2%–5,3% dalam data yang dipaparkan. Kondisi tersebut membatasi ruang penurunan imbal hasil di pasar domestik. Suhindarto juga menyoroti kebutuhan pembiayaan pemerintah yang berpotensi memengaruhi biaya dana korporasi. Tambahan pasokan Surat Berharga Negara (SBN) perlu dicermati karena pasar harus menyerap penerbitan surat utang pemerintah di tengah imbal hasil global yang masih tinggi.
“Kalau pembiayaannya cukup signifikan mendorong suplai SBN di pasar, maka ini juga akan mendorong yield atau biaya dana di pasar korporasi berada pada level yang tinggi,” ujar Suhindarto. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi perusahaan dalam menjaga profil kreditnya. Di tengah biaya pendanaan yang masih tinggi, perkembangan kualitas kredit korporasi dan kecenderungan aksi pemeringkatan akan menjadi indikator yang perlu dicermati pada sisa 2026.
Baca Juga: Utang Lama Menumpuk, Pefindo: Rating BUMN Karya Sulit Pulih Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News