Pefindo raih mandat rating obligasi Rp 44 triliun



JAKARTA. Tren penerbitan surat utang di berbagai sektor cukup semarak di tahun ini. Ini berdampak pada bisnis pemeringkatan yang dijalankan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Hendro Utomo Senior Vice President Division Head Financial Institution Ratings Pefindo bilang, hingga pertengahan Juni ini pihaknya sudah mengantongi mandat surat utang yang belum diterbitkan sebesar Rp 44,17 triliun.

Berdasarkan sektor, Hendro menyebut, sektor keuangan menjadi pemberi mandat terbesar. Mandat pemeringkatan obligasi dari sektor perbankan menembus angka Rp 17,05 triliun, menyusul industri pembiayaan senilai  Rp 7,5 triliun.


Kemudian sektor properti dan perkebunan masing-masing memberikan mandat pemeringkatan obligasi sebesar Rp 5,7 triliun dan Rp 3,7 triliun. Lalu, sektor infrastruktur dengan mandat pemeringkatan obligasi Rp 3,6 triliun.

Besaran mandat tersebut terdiri atas rencana realisasi penawaran umm berkelanjutan (PUB) senilai Rp 7 triliun dan penerbitan PUB baru sebesar Rp 16,95 triliun. Lalu Rp 20,22 triliun berupa penerbitan obligasi, sukuk dan medium term notes.

Secara total, jumlah perusahaan pemberi mandat namun belum diterbitkan ini mencapai 48 perusahaan. Diantaranya delapan bank, sepuluh perusahaan pembiayaan, dan sebelas perusahaan properti.

Menurut Hendro, tren penurunan suku bunga acuan berdampak positif pada tren kupon obligasi yang ikut menurun. "Sehingga minat untuk penerbitan surat utang juga meningkat," kata dia.

Sampai tengah bulan ini, jumlah pencatatan surat utang secara nasional mencapai Rp 42,8 triliun. Emisi obligasi sebesar itu berasal dari 28 perusahaan dengan berbagai latar belakang bisnis. 

Lebih dari separuhnya berasal dari perbankan, yakni Rp 21,8 triliun. Tercatat ada tujuh bank yang berkontribusi dalam penerbitan surat utang tersebut.

Lalu, ada 11 perusahaan pembiayaan yang merilis surat utang Rp 16,3 triliun. Di belakangnya, ada satu perusahaan konstruksi yang merilis obligasi senilai Rp 2 triliun.

Sampai tutup 2016, Hendro memprediksikan, jumlah emisi obligasi lebih kencang. Selain tren penurunan bunga, sejumlah sektor seperti infrastruktur dan properti akan giat berekspansi sehingga membutuhkan dana segar.

Sepanjang 2016, Hendro memperkirakan, penerbitan surat utang berbagai sektor bisa menembus Rp 80 triliun. "Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang ada di kisaran Rp 60 triliun," ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News