KONTAN.CO.ID - PT Pegadaian (persero) akan mencari pendanaan eksternal untuk sederet inisiatif lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG yang berkelanjutan. Nilainya sampai Rp 10 triliun. Kebutuhan pendanaan untuk inisiatif ESG tahun 2026 akan bersumber dari kombinasi arus kas internal dan instrumen pembiayaan berkelanjutan, termasuk obligasi dan sukuk berwawasan sosial yang direncanakan. "Besaran rinciannya akan mengikuti finalisasi RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) dan
pipeline proyek ESG, tetapi prinsipnya Pegadaian menargetkan porsi pembiayaan berkelanjutan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, selaras dengan sasaran dan
roadmap keberlanjutan perusahaan," kata Ferdian Timur Satyagraha, Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis PT Pegadaian.
Di tahun 2026 ini, ada obligasi sosial Pegadaian yang siap jatuh tempo. Yaitu, Obligasi Berwawasan Sosial Berkelanjutan I Pegadaian Tahap II Tahun 2025 Seri A bernilai Rp 954,2 miliar pada Juni nanti. Obligasi ini memberikan kupon 6,65%. "Sejalan dengan komitmen kami terhadap pembiayaan berkelanjutan, Pegadaian berencana untuk kembali menerbitkan obligasi berwawasan sosial sebagai bagian dari strategi pendanaan dan penguatan portofolio instrumen ESG," kata Ferdian. Dia mengatakan, Pegadaian memandang instrumen pembiayaan untuk ESG, terutama
social financing, sebagai salah satu bentuk strategi fundamental pendanaan jangka menengah. Karena itu, ke depan, Pegadaian akan tetap membuka opsi penerbitan efek bersifat utang berwawasan sosial. Namun, dengan pendekatan yang
market-driven dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas pasar, stabilitas suku bunga, serta efektivitas izin dari regulator. "Secara keseluruhan, total rencana penerbitan surat utang berwawasan sosial Pegadaian pada tahun 2026 mencapai sekitar Rp 10 triliun," ujar Ferdian. Dia bilang, tujuan penerbitan ini antara lain untuk menjaga struktur pendanaan yang sehat, serta mendukung pembiayaan usaha berorientasi keberlanjutan, khususnya yang sejalan dengan peran Pegadaian dalam memperluas inklusi keuangan dan pemberdayaan masyarakat. Penerbitan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan
pipeline, antara lain untuk mendukung produk‑produk sosial Pegadaian dan inisiatif keberlanjutan dalam
roadmap ESG.
Baca Juga: Menakar Daya Tarik Obligasi ESG: Menimbang Return dan Feel Good Secara indikatif, dia melihat kuartal II, kuartal III, dan kuartal IV tahun 2026 sebagai jendela waktu potensial untuk penerbitan berikutnya. "Tentunya, dengan tetap mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar, suku bunga, serta
appetite investor saat itu," kaata dia. Secara umum, penentuan kupon obligasi berwawasan sosial Pegadaian ini tetap mengacu pada kondisi pasar dan kurva imbal hasil pada saat
bookbuilding, termasuk mempertimbangkan rating (AAA), tenor, dan karakteristik investor. Dalam penerbitan sebelumnya, dia bilang, indikasi kupon obligasi dan sukuk berwawasan sosial Pegadaian berada dalam rentang yang kompetitif terhadap instrumen korporasi berperingkat serupa, dengan premi yang kompetitif dari benchmark
Govies (obligasi pemerintah). "Struktur kupon ke depan akan disesuaikan dengan
yield acuan dan
spread pasar pada saat transaksi dilakukan, sehingga tetap menarik bagi investor namun tetap efisien dari sisi biaya pendanaan perseroan," kata Ferdian.
Permintaan positif
Penerbitan obligasi bertema ESG atau berwawasan sosial/berkelanjutan memberikan beberapa nilai tambah dibanding obligasi konvensional. Antara lain, membuka akses ke basis investor yang lebih luas, khususnya investor institusi yang memiliki mandat atau preferensi pada instrumen berwawasan sosial. Obligasi ini pun diharapkan memperkuat citra dan kredibilitas perusahaan sebagai emiten yang bertanggung jawab dan berkomitmen pada aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, sejalan dengan tren investasi berkelanjutan di Indonesia dan global. "Karena secara prinsip, obligasi bertema ESG memberikan nilai tambah dari sisi reputasi dan
positioning perusahaan sebagai entitas yang menjalankan praktik bisnis berkelanjutan secara komprehensif," ujar Ferdian. Instrumen ini juga memperkuat
good will perusahaan dan wujud kepercayaan
stakeholder, khususnya investor institusional yang memiliki
concern terhadap ESG. Alasan lainnya, obligasi bertema ESG akan mendorong internal perusahaan untuk lebih disiplin dalam menetapkan dan melaporkan indikator kinerja ESG terkait penggunaan dana. Dia bilang, pasar instrumen berkelanjutan semakin berkembang dan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan permintaan yang cukup kuat. Ini terlihat dari
oversubscription atau kelebihan permintaan pada beberapa transaksi pemerintah dan korporasi. Respons positif ini juga yang dirasakan Pegadaian dalam penerbitan obligasi dan sukuk berwawasan sosial sebelumnya. "Dari sisi
demand, minat investor terhadap obligasi berwawasan sosial relatif baik. Namun demikian, dalam praktiknya pertimbangan utama investor tetap berada pada aspek finansial, terutama kupon dan profil risiko," kata dia.
Inisiatif ESG
Ferdian menjelaskan, di tahun 2026 ini, Pegadaian melanjutkan penguatan implementasi ESG melalui sejumlah fokus utama. "Pada tahun 2026, dalam perspektif pembiayaan, fokus utama ESG Pegadaian berada pada pilar sosial berkelanjutan, yang mencakup penguatan inklusi keuangan, pembiayaan usaha mikro dan ultra mikro, serta program sosial yang memberikan dampak langsung dan terukur bagi masyarakat," kata dia. Rinciannya, pengembangan dan peningkatan porsi pembiayaan sosial dan produk yang mendukung inklusi keuangan serta pemberdayaan UMKM dan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Peningkatan efisiensi energi dan pengurangan emisi, termasuk perluasan penggunaan energi terbarukan serta inisiatif operasional hijau di jaringan kantor Pegadaian.
Selain itu, pembiayaan ini ditujukan untuk penguatan tata kelola dan manajemen risiko terkait ESG, termasuk penyempurnaan
roadmap ESG,
baselining, dan
gap analysis terhadap standar internasional, serta kerja sama dengan lembaga
rating independen untuk pengukuran kinerja ESG.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News