Pejabat Kunci Program HIV AS Mundur, Kritik Kebijakan Kesehatan Global Trump



KONTAN.CO.ID - Pejabat sains utama dalam program penanggulangan HIV/AIDS Amerika Serikat (AS) mengundurkan diri pekan ini, sembari melontarkan kritik terhadap pendekatan pemerintahan Presiden Donald Trump dalam kebijakan bantuan kesehatan global.

Melansir Reuters Rabu (22/4/2026), Mike Reid, yang menjabat sebagai Chief Science Officer dalam program PEPFAR (President’s Emergency Plan for AIDS Relief) menyatakan, keprihatinannya terhadap pemangkasan bantuan luar negeri serta dugaan penggunaan bantuan sebagai alat negosiasi kepentingan ekonomi AS.

Baca Juga: Pejabat Militer AS Sebut Bitcoin Jadi Instrumen Kekuatan Nasional


Dalam tulisannya, Reid mengungkapkan bahwa ia bertahan selama 18 bulan terakhir untuk menjaga keberlangsungan program-program penting.

Namun, ia menilai arah kebijakan saat ini telah menyimpang dari tujuan awal.

“Ketika akses terhadap pengobatan atau pencegahan dikaitkan dengan kepentingan geopolitik atau sumber daya strategis, maka program ini tidak lagi sesuai dengan klaim awalnya,” tulis Reid.

Ia juga menyoroti laporan bahwa AS mempertimbangkan menahan bantuan HIV ke Zambia guna mendorong kesepakatan mineral strategis yang menguntungkan.

Tak lama setelah unggahan tersebut, Departemen Luar Negeri AS mengakhiri masa kerja Reid. Pihak kementerian menyatakan keputusan itu diambil secara kesepakatan bersama setelah Reid mengakui tidak dapat lagi memberikan pandangan ilmiah yang netral.

Baca Juga: Jelang IPO Raksasa, SpaceX Percepat Ekspansi AI hingga Atur Kendali Saham

Sorotan terhadap Strategi “America First”

Program PEPFAR sendiri merupakan inisiatif bipartisan yang diluncurkan pada era Presiden George W. Bush dan telah berkontribusi menyelamatkan sekitar 26 juta jiwa sejak 2003.

Namun, data terbaru menunjukkan jumlah tes HIV mengalami penurunan tajam tahun lalu, seiring gangguan operasional program.

Pemerintah AS menegaskan tetap menyalurkan anggaran yang telah disetujui Kongres serta tengah membangun strategi kesehatan global berbasis “America First” di bawah kepemimpinan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik ke US$ 4.739 pada Rabu (22/4) Pagi, Ini Pemicunya

Strategi tersebut antara lain mendorong negara berkembang untuk mengambil peran lebih besar dalam pembiayaan dan pengelolaan program kesehatan melalui kerja sama bilateral.

Meski demikian, Reid menilai pendekatan tersebut diiringi dengan pengurangan dana, di tengah meningkatnya belanja militer AS serta konflik geopolitik yang tengah berlangsung.

Ia juga mengkritik pergeseran penyaluran dana ke pemerintah negara mitra tanpa diimbangi pengawasan yang memadai, terutama setelah banyak pejabat pengawas kehilangan pekerjaan.

“Saya khawatir dengan kecepatan perubahan ini dan minimnya pengawasan,” ujarnya.