Pejabat The Fed Peringatkan Lonjakan Harga Energi Tak Bisa Dianggap Sementara



KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeffrey Schmid memperingatkan bahwa lonjakan harga energi saat ini tidak bisa begitu saja dianggap sebagai gejolak sementara yang akan cepat mereda.

Menurut Schmid, tingkat inflasi di Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi membuat bank sentral perlu tetap waspada dalam menentukan arah kebijakan moneter.

Baca Juga: Dari Pantai Rio ke Piala Dunia, Altinha Jadi Simbol Budaya Sepak Bola Brasil


“Perhatian utama saya adalah inflasi yang masih terlalu panas dan sudah terlalu lama berada di atas target,” ujar Schmid dalam naskah pidato yang disampaikan pada konferensi di Islandia, yang dilansir Reuters Jumat (29/5/2026).

Ia mengatakan dirinya tidak sepenuhnya yakin bahwa kenaikan harga terbaru bersifat sementara dalam jangka waktu yang dapat diterima.

“Karena itu fokus saya tetap pada inflasi dalam menentukan arah kebijakan yang tepat,” katanya.

Schmid menegaskan sekarang bukan waktu yang tepat bagi The Fed untuk menurunkan kewaspadaan, mengingat inflasi masih bertahan di atas target bank sentral sebesar 2%.

Meski demikian, Schmid tidak secara eksplisit menyebut apakah kekhawatiran inflasi tersebut akan mendorong kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Baca Juga: Kinerja SCG Melonjak di Kuartal I-2026, Penjualan di Indonesia Naik 16%

Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5% hingga 3,75% pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan depan.

Namun, ekspektasi pasar telah bergeser dari sebelumnya memperkirakan pemangkasan suku bunga menjadi kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika inflasi tetap tinggi.

Beberapa pejabat The Fed sebelumnya juga menyatakan pengetatan kebijakan moneter masih menjadi opsi apabila tekanan inflasi tidak mereda.

Sementara sebagian pejabat lain menilai kondisi keuangan yang sudah lebih ketat saat ini cukup memberi tekanan pada ekonomi sehingga The Fed masih dapat menunggu perkembangan data sebelum mengambil langkah baru.

Baca Juga: El Nino Diperkirakan Memuncak pada Musim Gugur-Musim Dingin di China

Banyak pejabat The Fed berharap tekanan inflasi akan mereda pada akhir tahun ini, terutama jika konflik Iran dapat segera terselesaikan.

Dalam pidatonya, Schmid juga menyoroti bahwa Amerika Serikat memang kini tidak terlalu rentan terhadap guncangan energi dibanding masa lalu.

Meski begitu, kenaikan harga bensin tetap mengurangi kemampuan belanja masyarakat.

Ia juga mengungkapkan perusahaan energi di AS masih berhati-hati meningkatkan produksi minyak meskipun harga sedang tinggi.

“Diskusi saya dengan pelaku usaha di wilayah kami menunjukkan tingkat kehati-hatian yang tinggi,” ujar Schmid.

Menurutnya, perusahaan energi kini lebih disiplin dalam penggunaan modal dan enggan meningkatkan produksi selama harga minyak masih diliputi ketidakpastian.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Stabil Seiring Pasar Menunggu Kepastian Damai AS-Iran

Di sisi lain, Schmid menilai sebagian besar indikator ekonomi masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang stabil.

Ia juga menyebut pasar tenaga kerja AS saat ini relatif seimbang, meskipun ada potensi gangguan dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).