KONTAN.CO.ID - Gubernur Federal Reserve (The Fed) Michael Barr menilai bahwa upaya untuk mengecilkan neraca bank sentral dengan melonggarkan aturan likuiditas perbankan merupakan langkah yang keliru dan berpotensi melemahkan stabilitas sistem keuangan. Dalam pidato yang akan disampaikan di New York dalam forum Money Marketeers of New York University, Barr menegaskan bahwa tujuan untuk memperkecil neraca The Fed bukanlah kebijakan yang tepat.
Baca Juga: Trump Minta China Tekan Iran, Xi Balas dengan Peringatan Taiwan “Menurut saya, mengecilkan neraca adalah tujuan yang salah, dan banyak usulan untuk mencapai tujuan ini justru akan melemahkan ketahanan perbankan, menghambat fungsi pasar uang, dan pada akhirnya mengancam stabilitas keuangan,” ujar Barr dalam teks pidatonya, Kamis (14/5/2026) sebagaimana dikutip
Reuters. Ia menambahkan bahwa sejumlah proposal yang mendorong bank untuk menyimpan lebih sedikit likuiditas demi memperkecil neraca The Fed justru dapat meningkatkan risiko, terutama ketika bank harus kembali mengandalkan fasilitas likuiditas The Fed saat terjadi tekanan keuangan. “Jika ada satu pelajaran dari tekanan perbankan tahun 2023, maka seharusnya persyaratan likuiditas ditingkatkan, bukan diturunkan,” tegasnya. Barr juga menekankan bahwa ukuran neraca The Fed bukanlah indikator utama dari pengaruh bank sentral di pasar keuangan.
Baca Juga: Trump dan Xi Bersiap Lanjutkan Pertemuan Hari Kedua, Taiwan Jadi Sorotan Utama Menurutnya, dalam sistem yang memungkinkan penciptaan cadangan secara efektif tanpa biaya, fokus utama seharusnya adalah efektivitas kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ia menyebut bahwa kerangka kebijakan saat ini telah berhasil mencapai tujuan moneter selama bertahun-tahun dan mendukung kelancaran fungsi pasar. Pernyataan Barr ini muncul di tengah diskusi mengenai kemungkinan perubahan strategi pengelolaan neraca The Fed di masa depan, termasuk kritik dari sejumlah pihak yang menilai kepemilikan aset bank sentral terlalu besar.
Sebelumnya, Fed sempat memperbesar neraca hingga lebih dari US$ 9 triliun pada masa pandemi Covid-19 melalui pembelian obligasi besar-besaran.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup Stabil Kamis (15/5), Brent ke US$105,72 & WTI ke US$101,17 Setelah itu, The Fed mulai melakukan pengetatan dengan memangkas kepemilikan sekitar US$ 2 triliun, sehingga saat ini berada di kisaran US$ 6,7 triliun. Di sisi lain, sebagian ekonom dan pejabat The Fed berbeda pandangan. Ada yang menilai bahwa penyesuaian aturan likuiditas bank dapat membantu ruang bagi penyusutan neraca, sementara yang lain mengingatkan bahwa langkah tersebut justru berisiko memicu instabilitas keuangan baru.