KONTAN.CO.ID - Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menilai kebijakan moneter Amerika Serikat saat ini berada pada posisi yang tepat di tengah prospek ekonomi yang dinilainya cukup baik. Williams juga mengindikasikan tidak ada alasan mendesak untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Dalam pidatonya di hadapan forum Council on Foreign Relations di New York, Senin (12/1/2026), Williams mengatakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah membawa kebijakan moneter dari posisi yang sebelumnya agak ketat menjadi lebih mendekati netral.
Baca Juga: Tegas! Pejabat Kelas Atas China Jadi Buruan Xi Jinping “Kebijakan moneter kini berada pada posisi yang tepat untuk mendukung stabilisasi pasar tenaga kerja dan mengembalikan inflasi ke target jangka panjang FOMC sebesar 2%,” ujar Williams. Ia menegaskan pentingnya menurunkan inflasi ke level sasaran tanpa menimbulkan risiko berlebihan terhadap pasar tenaga kerja. Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir risiko penurunan pada sisi ketenagakerjaan meningkat seiring mendinginnya pasar tenaga kerja, sementara risiko kenaikan inflasi justru menurun. Pernyataan Williams ini merupakan komentar publik pertamanya pada tahun ini. The Fed secara luas dipandang telah memasuki fase menahan kebijakan (holding stage) setelah memangkas suku bunga acuan sebesar 75 basis poin sepanjang tahun lalu, sehingga kisaran suku bunga federal funds kini berada di 3,5%–3,75%.
Baca Juga: Bursa Jepang Selasa (13/1): Nikkei Terbang Tinggi, Sentuh Rekor Sepanjang Masa Penurunan suku bunga tersebut dilakukan untuk menyeimbangkan kondisi pasar tenaga kerja yang melemah dengan inflasi yang masih berada di atas target 2%. Pada pertemuan Desember lalu, pejabat The Fed memproyeksikan satu kali lagi pemangkasan suku bunga tahun ini, dengan asumsi pasar tenaga kerja tetap stabil dan tekanan inflasi mereda seiring memudarnya dampak kebijakan tarif dagang Presiden Donald Trump yang diterapkan secara tidak konsisten. Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan permintaan tenaga kerja yang lemah di tengah inflasi yang masih relatif tinggi. Dalam wawancara televisi pada Desember, Williams juga menyebut tidak melihat urgensi untuk kembali menurunkan suku bunga. Pandangan ini sejalan dengan sejumlah pejabat The Fed lainnya, meskipun tekanan politik dari Trump dan para sekutunya agar The Fed memangkas suku bunga secara agresif terus berlanjut.
Baca Juga: Geger! Jerome Powell Diteror: Ancaman Dakwaan Pidana The Fed Dibongkar Williams menggambarkan prospek ekonomi AS sebagai “cukup positif.” Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 2,5%–2,75%, dengan tingkat pengangguran stabil tahun ini dan mulai menurun pada tahun-tahun berikutnya. Untuk inflasi, Williams memperkirakan tekanan harga mencapai puncak 2,75%–3% pada paruh pertama tahun ini, sebelum melandai menjadi sekitar 2,5% secara tahunan, dan kembali ke 2% pada 2027. Di sisi lain, pidato Williams juga disampaikan di tengah tekanan serius terhadap independensi bank sentral. Ketua The Fed Jerome Powell sebelumnya mengungkapkan bahwa lembaganya menerima subpoena dewan juri yang berpotensi mengarah pada dakwaan pidana terkait pembengkakan biaya renovasi kantor pusat The Fed. Powell menilai langkah hukum tersebut sebagai dalih politik dan menegaskan bahwa isu utamanya adalah apakah The Fed masih dapat menetapkan kebijakan moneter berdasarkan data dan kondisi ekonomi, atau justru di bawah tekanan dan intimidasi politik.
Baca Juga: Nestlé Tarik Produk Bayi di Negara Lain, Cek Stok Anda di Malaysia Menanggapi hal tersebut, Williams menolak mengomentari proses hukum yang berjalan, namun memperingatkan bahaya jika independensi bank sentral dikompromikan.
Menurutnya, serangan terhadap independensi bank sentral sering kali berujung pada dampak ekonomi yang buruk, termasuk inflasi tinggi. Williams juga menegaskan bahwa Powell adalah sosok dengan integritas tinggi dan telah memimpin The Fed melewati berbagai periode sulit.