Pekan depan rupiah bisa terjegal faktor eksternal



JAKARTA. Meski peluang penguatan rupiah pekan depan masih ada, analis menilai pergerakan rupiah harus mewaspadai beberapa faktor eksternal.

Di pasar spot, Jumat (12/2) valuasi rupiah melemah 0,2% ke level Rp 13.490 per dollar AS dibanding hari sebelumnya. Namun dalam sepekan terakhir rupiah sudah terangkat 0,98%.

Sejalan, di kurs tengah Bank Indonesia posisi rupiah merosot 0,76% di level Rp 13.471 per dollar AS dengan penguatan 1,33% dalam sepanjang pekan ini.


David Sumual, Ekonom Bank Central Asia dari sisi domestik memang cukup kuat. Terbaru defisit transaksi berjalan sepanjang 2015 mengalami perbaikan sebesar US$ 17,8 miliar atau turun 2,06% dibanding tahun sebelumnya.

Selain itu, “Capital inflow di pasar modal tinggi karena larinya investor ke pasar emerging seperti Indonesia,” kata David. Tidak hanya itu suntikan juga datang dari rilisnya paket kebijakan terbaru, yang kesepuluh.

“Ada indikasi kebijakan moneter kita masih akan dipertahankan dan pertumbuhan ekonomi ke depannya bisa lebih baik,” duga David. Ditambah lagi di pertengahan pekan, posisi USD ambruk. Setelah Janet Yellen, Gubernur The Fed memberikan sinyal pertumbuhan ekonomi AS terjegal oleh perlambatan ekonomi global.

Hanya saja David mengatakan pekan depan untuk melihat pergerakan rupiah perlu mewaspadai laporan neraca perdagangan China, PDB Eropa 2015 dan inflasi AS. Jika data China dan Eropa masih buruk serta inflasi AS meningkat, bukan tidak mungkin rupiah kembali tertekan.

“Bukan tidak mungkin katalis eksternal yang jadi penjegal rupiah,” prediksi David. Meski demikian, David menilai peluang penguatan rupiah sepanjang pekan depan masih ada meski lebih tipis.

Hal tersebut bisa terjadi jika data domestik cukup positif sehingga bisa menjadi daya tahan dari sisi eksternal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia