Pekan depan rupiah diprediksi sideways



JAKARTA. Selama sepekan terakhir valuasi mata uang Garuda bergerak stabil. Kegagalan pemerintahan Donald Trump mengajukan revisi UU Kesehatan sempat membuat nilai rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) menguat. Namun di akhir pekan, rupiah koreksi tipis karena data pertumbuhan ekonomi AS cukup baik.

Kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat di pasar spot Jumat (31/3) melemah 0,05% jadi Rp 13.322 per dollar AS dan kurs tengah rupiah Bank Indonesia melemah 0,04% ke Rp 13.321 per dollar AS. Sepekan ini, kurs spot rupiah melemah 0,04% dan kurs tengah BI koreksi 0,06%.

David Sumual, ekonom Bank Central Asia, mengatakan, koreksi nilai tukar rupiah akhir pekan ini dipengaruhi sentimen dari AS. Ekonomi AS di kuartal IV-2016 yang sebelumnya diestimasi hanya tumbuh 1,9%, ternyata tumbuh 2,1%. "Hasil PDB yang tumbuh lebih tinggi ini mendorong penguatan dollar AS," terang dia.


Indeks dollar AS pun melesat. Jumat (31/3), pukul 17.30 WIB, indeks dollar AS menguat 0,16% ke level 100,57. Padahal, akibat gagalnya pengajuan revisi UU Kesehatan AS, indeks dollar sempat terpuruk ke level 99.

Dari domestik, sentimen aksi demo 313 dinilai tidak berpengaruh banyak. Rupiah masih menanti rilis data inflasi pada pekan depan.

Agus Chandra, analis PT Monex Investindo Futures, menyebut, pergerakan rupiah yang stabil memang diinginkan oleh Bank Indonesia. Pemerintah sengaja menahan laju penguatan rupiah demi menjaga aktivitas ekspor.

Pekan depan, di tengah sejumlah rilis data ekonomi Negeri Paman Sam, rupiah diperkirakan cukup stabil berkat fundamental positif dari dalam negeri. Agus memperkirakan rupiah akan bergerak stabil di kisaran Rp 13.250-Rp 13.450 per dollar AS. David menganalisa rupiah bergerak di rentang sempit, yakni antara Rp 13.300-Rp 13.370.

Tambah lagi, beberapa pejabat The Fed memberi pernyataan hawkish terkait potensi kenaikan suku bunga. Sebut saja Charles Evans, Gubernur The Fed negara bagian Chicago, yang mendukung kenaikan suku bunga lanjutan. Wakil Gubernur The Fed Stanley Fischer juga memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih dari tiga kali tahun ini. "Tetapi pelemahan harga emas hanya terjadi dalam jangka pendek," tutur Deddy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Rizki Caturini