KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan reksadana
exchange traded fund (ETF) berbasis emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih fluktuatif hingga pekan kedua perdagangan, setelah diluncurkan pada 10 Agustus 2026 lalu. Saat ini, terdapat lima produk ETF emas yang dapat diperdagangkan di BEI, yakni ETF Emas Trimegah (XTRA), ETF Emas Syailendra (XSGO), ETF Emas Mandiri Sekuritas (XMES), ETF Emas Premier (XGLD), dan ETF Emas BRI-MI (XDES). Pada penutupan perdagangan sesi I Kamis (20/8/2026), mayoritas produk ETF emas ditutup menguat. ETF emas XMES ditutup menguat 0,85% secara harian menjadi Rp 835 per unit. Kemudian XGLD ditutup menguat 1,57% menjadi Rp 258 per unit. Serta XDES ditutup menguat 0,10% menjadi Rp 1.000 per unit.
Baca Juga: DPLK Syariah Muamalat Jadi Investor Pertama ETF Emas XGLD Sementara itu, ETF emas XTRA ditutup menguat 0,78% menjadi Rp 259 per unit tetapi XSGO ditutup melemah 1,2% dibanding hari sebelumnya menjadi harga Rp 1.045 per unit. Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan, pergerakan lima ETF emas hingga hari ini belum dapat menjadi gambaran penuh mengenai kinerja produk dalam jangka panjang. "Pergerakan lima ETF emas selama sepekan terakhir ini masih tergolong wajar karena produk baru memasuki fase
price discovery," ujar Elandry kepada Kontan, Rabu (19/8/2026). Menurut dia, fluktuasi pada fase awal perdagangan juga dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan antara harga ETF di pasar dengan nilai aktiva bersih atau
net asset value (NAV). Oleh karena itu, investor tidak hanya perlu mencermati pergerakan harga ETF, tetapi juga memperhatikan selisih harga pasar dengan NAV sebelum menarik kesimpulan mengenai kinerja instrumen tersebut.
Baca Juga: BAFI Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Senilai Rp 100 Miliar pada November 2026 Elandry menyebut harga emas global tetap menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan ETF emas. Namun, terdapat sejumlah faktor lain yang juga perlu diperhatikan investor. Di antaranya adalah pergerakan nilai tukar rupiah, suku bunga dan
yield global, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed), inflasi, hingga tingkat
risk appetite investor. Kendati demikian, emas dikatakan masih menjadi salah satu aset yang menarik bagi investor dalam jangka panjang Dalam riset Syailendra Capital yang diterima Kontan pada Kamis (20/8) mencatat, meski emas merupakan aset yang tidak memberikan pendapatan atau imbal hasil berkala (
non-yielding asset), komoditas tersebut mencatatkan rata-rata imbal hasil tertinggi, yakni 9,7% dalam 15 tahun terakhir. Penguatan harga emas terutama terlihat dalam tiga tahun terakhir. Kondisi tersebut didorong oleh sejumlah faktor, seperti dedolarisasi, pembelian emas secara agresif oleh bank sentral global, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Emas juga penting sebagai instrumen diversifikasi portofolio.
Baca Juga: Dorong Peningkatan Produksi Migas, Elnusa (ELSA) Perkuat Solusi Chemical Syailendra Capital menilai keterbatasan pasokan emas turut mendorong apresiasi harga emas secara struktural. Kondisi tersebut sekaligus memperkuat fungsi emas sebagai lindung nilai (
hedging) terhadap pelemahan rupiah yang berkelanjutan. Lebih lanjut untuk prospek tiga hingga enam bulan ke depan, Elandry melihat terdapat sejumlah katalis yang berpotensi menopang kinerja ETF emas. "Untuk 3–6 bulan, katalis positifnya terutama potensi kenaikan emas dan meningkatnya
demand safe haven," jelasnya. Meski demikian, investor juga perlu mewaspadai sejumlah risiko yang dapat menekan kinerja ETF emas. Penguatan dolar AS, kenaikan yield global, serta koreksi harga emas dapat menjadi katalis negatif bagi instrumen tersebut.
Sementara itu, dari sisi aktivitas perdagangan, Elandry bilang masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah volume dan nilai transaksi lima ETF emas telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Pasalnya, produk-produk tersebut masih berada dalam tahap pembentukan likuiditas (
liquidity building). Karena itu, perkembangan volume dan nilai transaksi dalam beberapa waktu ke depan menjadi indikator yang lebih penting. "Yang lebih penting adalah melihat apakah volume dan nilai transaksi dapat tumbuh konsisten serta
spread terhadap NAV semakin menyempit," pungkas Elandry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News