KONTAN.CO.ID - Rencana aksi mogok kerja pekerja Samsung Electronics berpotensi mengganggu produksi chip semikonduktor global. Serikat pekerja terbesar perusahaan tersebut tengah melakukan pemungutan suara terkait rencana mogok pada Mei mendatang. Jika aksi tersebut benar-benar terjadi, pasokan chip dunia dapat semakin tertekan di tengah lonjakan permintaan semikonduktor untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini berpotensi berdampak pada berbagai industri, mulai dari otomotif, komputer hingga smartphone.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Sekitar 3% Senin (16/3), Meski Ketegangan Selat Hormuz Berlanjut Pemimpin Samsung Electronics Labour Union (SELU) Choi Seung-ho mengatakan, gangguan produksi sangat mungkin terjadi apabila mogok kerja berlangsung. “Jika kesepakatan tidak tercapai, kami berencana melakukan mogok selama 18 hari mulai 21 Mei,” ujar Choi dilansir dari Reuters Selasa (17/3/2026). Aksi tersebut diperkirakan dapat mempengaruhi sekitar setengah dari output kompleks semikonduktor Samsung di Pyeongtaek, yang berada di selatan Seoul. Seorang juru bicara Samsung menyatakan perusahaan akan terus melanjutkan dialog dengan para pekerja secara terbuka untuk mencari solusi terbaik.
Baca Juga: Harga Emas Melemah, Kekhawatiran Inflasi Akibat Konflik Timur Tengah Tekan Pasar Ketidakpuasan pekerja meningkat dalam beberapa bulan terakhir, terutama terkait kesenjangan kompensasi dengan pesaing utama seperti SK Hynix. Menurut serikat pekerja, industri chip tengah menikmati pertumbuhan pesat, tetapi manfaatnya dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh karyawan. Dalam tiga bulan terakhir, lebih dari 100 anggota serikat disebut telah meninggalkan Samsung untuk bergabung dengan perusahaan lain, termasuk SK Hynix. Perusahaan tersebut sebelumnya menyetujui reformasi kompensasi, termasuk menaikkan batas bonus dan mengalokasikan 10% laba operasional sebagai dana bonus. Serikat pekerja Samsung menuntut kenaikan gaji pokok sebesar 7%, penghapusan batas bonus kinerja sebesar 50% dari gaji tahunan, serta pembentukan skema bonus berbasis laba operasional yang dinilai lebih transparan.
Baca Juga: Chelsea Kena Denda Rp 215 Miliar, Lolos Pengurangan Poin? Ini Sebabnya Sekitar 90.000 pekerja yang tergabung dalam serikat dari total 125.000 karyawan Samsung di Korea Selatan berhak mengikuti pemungutan suara yang berlangsung hingga Rabu. SELU sendiri memiliki sekitar 66.000 anggota, termasuk sekitar 51.000 pekerja di divisi chip. Di sisi lain, Samsung menyatakan telah menawarkan proposal kompensasi yang belum pernah diberikan sebelumnya, termasuk kenaikan gaji 6,2% serta bonus khusus untuk mencapai kesepakatan upah tahun 2026. Namun perusahaan menilai penghapusan batas bonus dapat menyulitkan pembiayaan investasi masa depan di industri semikonduktor yang sangat padat modal dan bersifat siklikal. “Jika satu aksi mogok saja menghentikan jalur produksi dan merusak kepercayaan pelanggan, dampaknya bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk pulih,” kata seorang pejabat perusahaan yang enggan disebutkan namanya.
Baca Juga: Meta Siapkan PHK Besar hingga 20% Karyawan demi Tekan Biaya AI Ketegangan hubungan industrial ini terjadi setelah Chairman Samsung Jay Y. Lee pada 2020 berjanji mengakhiri reputasi perusahaan sebagai perusahaan dengan kebijakan “tanpa serikat pekerja”.
Menurut Seo Ji-yong, profesor administrasi bisnis di Sangmyung University, Samsung selama ini relatif minim pengalaman dalam mengelola hubungan industrial dibandingkan konglomerat Korea Selatan lain seperti Hyundai Motor. “Jika manajemen tetap bertahan pada pendekatan lama dan mengabaikan tuntutan pekerja, perselisihan ini bisa menghambat momentum kinerja Samsung,” ujarnya. Padahal, Samsung mencatat laba kuartal IV 2025 tertinggi sepanjang sejarah. Para analis bahkan memperkirakan laba operasional perusahaan tahun ini dapat melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi lebih dari 200 triliun won. Di tengah persaingan industri chip yang semakin ketat, CEO Tesla, Elon Musk, juga diketahui mulai membidik talenta semikonduktor Korea Selatan untuk mendukung pengembangan chip AI bagi mobil otonom dan robot humanoid.