Pelaku Usaha Indonesia Dorong Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik melalui ABAC



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha Indonesia berstrategi dalam mendorong penguatan kerja sama ekonomi Asia-Pasifik melalui keterlibatan dalam Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) Business Advisory Council (ABAC), atau dewan penasihat bisnis APEC.

Pada 7–9 Februari 2026, ABAC yang terdiri dari tiga perwakilan pengusaha dari masing-masing negara APEC, akan menggelar pertemuan ABAC Meeting I di Jakarta.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus Ketua Steering Committee ABAC Meeting I 2026, Shinta W. Kamdani mengatakan, melalui sejumlah program kerja, negara-negara APEC termasuk Indonesia, untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pemerintah masing-masing negara.


Pelaku usaha Indonesia, lanjutnya, membawa sejumlah proyek berkelanjutan (legacy project) yang disampaikan untuk APEC sebagai bentuk kontribusi terhadap penguatan ekonomi kawasan Asia-Pasifik.

Salah satu proyeknya, ialah pengembangan carbon center of excellence. Shinta bilang, Indonesia menginisiasi pengembangan pasar karbon menjadi bagian dari legacy project di APEC. 

“Hal ini termasuk melalui sharing knowledge lewat knowledge hub, serta bekerja sama dengan beberapa negara APEC untuk menyusun jalur pengembangan pasar karbon,” kata Shinta dalam media briefing Road to ABAC Meeting I di Menara Kadin Jakarta, Senin (2/2/2026).

Baca Juga: Peluang Bisnis Global: Kadin Bidik AS-China di ABAC Februari 2026

Kedua, pengusaha Indonesia juga disebut berperan penting dalam legacy ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Ketiga, para pengusaha turut mencanangkan Indonesia Impact Fund (IIF) dalam rangka memberi kesempatan untuk memberikan pendanaan kepada berbagai startup yang mengedepankan sustainable development goals (SDGs).

“IIF ini sesuatu yang sudah dikedepankan oleh ABAC Indonesia, sudah on going. Kita sudah berinvestasi di beberapa startup, bekerja sama dengan Bank Mandiri,” jelas Shinta.

Ia menambahkan, penyelenggaraan ABAC Meeting I di Indonesia merupakan sebuah peluang strategis untuk mendorong peningkatan investasi dari negara-negara kawasan Asia Pasifik. Peluang tersebut terbuka bagi investor yang telah menanamkan modal di Tanah Air, maupun yang masih menjajaki peluang investasi di Indonesia.

Dus, para pengusaha disebut telah mempersiapkan sejumlah agenda yang mengarah pada promosi Indonesia.

Baca Juga: Kadin Nilai Prospek FDI High Tech Indonesia Masih Kuat pada 2026

“Organizing committee (panitia penyelenggara) sudah prepare (bersiap) untuk mengajak mereka ke lokasi strategis seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan lainnya, yang salah satunya juga bertujuan menargetkan investasi di sektor pariwisata,” lanjut Shinta.

Selain itu, sehari sebelum acara ABAC Meeting I, Indonesia telah menyiapkan side event yang berfokus pada pengembangan UMKM dan digitalisasi, bekerja sama dengan Kanada.

“Kami tidak hanya ingin kegiatan ini memberi manfaat bagi pelaku usaha besar, tetapi juga bagi UMKM. Harapannya, UMKM dapat terkoneksi dan memperoleh dukungan melalui berbagai output yang dihasilkan dari agenda ini,” imbuh Shinta.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menambahkan, APEC memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia karena sebagian besar mitra dagang utama Indonesia berada dalam kawasan tersebut.

“Sebanyak sembilan dari sepuluh negara mitra dagang utama Indonesia tergabung dalam APEC, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan juga Rusia,” ujar Anindya.

Meskipun APEC hanya mencakup kawasan Asia Pasifik dan tidak termasuk negara-negara Eropa, kata Anindya, kontribusinya terhadap perdagangan Indonesia sangat besar.

Baca Juga: KADIN Proyeksikan Manufaktur Mesin Utama Ekonomi 2026

“Sembilan dari sepuluh mitra dagang itu mencakup sekitar 70% dari total ekspor Indonesia. Selain itu, kawasan APEC memiliki sekitar 3 miliar penduduk atau 40% dari total populasi dunia, dengan kontribusi sekitar 60% terhadap produk domestik bruto (PDB) global,” ujarnya.

Di luar kerja sama APEC, Anindya mencontohkan keberhasilan kerja sama bilateral Indonesia dengan Inggris, khususnya di sektor maritim.

Ia menyinggung kerja sama Indonesia dengan Inggris Raya yang memberikan fasilitas kredit sebesar 4 miliar poundsterling kepada Indonesia atau sekitar Rp 90 triliun. “Yang dibeli dari Inggris itu bukan kapalnya, tetapi desainnya. Pembangunannya dilakukan di Indonesia,” katanya.

Menurut Anindya, skema tersebut mencerminkan bahwa pembukaan akses pasar kerapkali diikuti dengan transfer teknologi, kerja sama industri, dan investasi. Hal serupa, lanjutnya, uga terlihat pada kebutuhan pembangunan sekitar 1.600 kapal nelayan, dengan desain dari luar negeri tetapi diproduksi di dalam negeri.

“Karena itu, pembukaan akses pasar jangan dianggap kecil. Biasanya akses pasar juga dibarengi dengan akses teknologi, kerja sama, investasi, dan lain-lain,” imbuh dia.

Baca Juga: Ekspor Tumbuh Positif 66 Bulan, Kadin Ajak Pelaku Usaha Genjot Ekspor Pasca-CEPA

Selanjutnya: Setelah Jadi BUMN, Bank Syariah Indonesia (BSI) Mulai Siapkan Langkah Jadi KBMI 4

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (3/2), Hujan Sangat Deras Guyur Provinsi Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News