Pelaku Usaha Inggris Makin Pesimistis



KONTAN.CO.ID - LONDON. Sentimen dunia usaha di Inggris kian terpuruk pada akhir 2025. Pelaku bisnis di Negeri Ratu Elizabeth kini berada dalam kondisi paling pesimistis dalam tiga tahun terakhir, seiring tekanan kebijakan fiskal dan ketidakpastian ekonomi domestik yang belum mereda.

Survei Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) menunjukkan indeks kepercayaan bisnis turun ke level -11,1 pada kuartal IV-2025. Angka ini menjadi yang terendah sejak akhir 2022 dan memburuk dibanding posisi kuartal III yang masih di -7,3.

Mengutip Reuters (14/1), pelemahan sentimen ini berlangsung konsisten sepanjang periode September hingga Desember. Bahkan, setelah Menteri Keuangan Rachel Reeves mengumumkan anggaran pada 26 November, kepercayaan bisnis kembali tergelincir dari -10,7 menjadi lebih dalam 0,4 poin pada hasil akhir survei.


Tekanan terhadap dunia usaha juga tercermin dari survei lain. Indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P pekan lalu hanya menunjukkan kenaikan tipis sentimen bisnis pada Desember. Padahal sebelumnya pasar memperkirakan pemulihan yang lebih kuat setelah ketidakpastian seputar anggaran mereda.

Dalam anggarannya, Reeves mengumumkan rencana kenaikan pajak sebesar 26 miliar pound sterling. Meski sebagian besar kenaikan tersebut ditunda dan tidak sekeras kebijakan pajak tenaga kerja pada 2024, langkah ini tetap menambah beban psikologis pelaku usaha.

Baca Juga: China Larang Penggunaan Perangkat Lunak Keamanan Siber AS dan Israel, Ini Alasannya

Pemerintah Inggris di bawah Perdana Menteri Keir Starmer dan Reeves memang tengah berupaya mengejar pertumbuhan ekonomi yang melambat dan berjanji menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi investasi. Namun, respons dunia usaha sejauh ini masih jauh dari optimistis.

Survei ICAEW mencatat, kepercayaan bisnis sudah turun selama enam kuartal berturut-turut. Bahkan, 64% perusahaan tertinggi sepanjang sejarah survey menyebut pajak sebagai tantangan yang kian berat. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding saat pemilu 2024.

Selain pajak, regulasi juga menjadi sumber kekhawatiran. Sekitar separuh pelaku usaha menyatakan cemas terhadap arah kebijakan aturan, level tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun terakhir, terutama terkait rencana undang-undang baru tentang hak-hak tenaga kerja.

Menariknya, kepercayaan di kalangan eksportir justru membaik. Ini mengindikasikan bahwa sumber utama tekanan sentimen justru berasal dari masalah domestik, bukan dari permintaan global.

Meski begitu, ada sedikit sinyal perbaikan. Indikator aktivitas penjualan untuk beberapa bulan ke depan mulai menunjukkan peningkatan, meski masih rapuh.

Survei ini melibatkan 1.000 akuntan dan dilakukan melalui telepon pada periode 8 Oktober hingga 11 Desember 2025.

Baca Juga: WEF: Konfrontasi Ekonomi Geser Konflik Bersenjata sebagai Risiko Global Terbesar

Selanjutnya: Jumlah PHK Capai 88.519 di Tahun 2025, KSPN: Banyak Perusahaan Tidak Bisa Bersaing

Menarik Dibaca: 5 Bahaya Bertengkar di Depan Anak, Orang Tua Wajib Tahu Sebelum Terlambat!