Pelambatan ekonomi ganjal bursa saham



JAKARTA. Pasar saham domestik kembali memasuki masa genting. Rabu (4/5) Indeks Harga Saham Gabungan, Rabu (4/5), ditutup 4.822,60, turun hampir 2% ketimbang posisi tertinggi selama delapan bulan terakhir di 4.914,74, pada 22 April lalu.

Tujuh hari berturut-turut, para pemodal asing angkat koper dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Sepanjang periode tersebut, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell)  Rp 3,58 triliun.

Selain faktor global, fundamental ekonomi Indonesia yang masih lemah turut menekan pasar saham. Sebagian emiten di BEI telah mengumumkan laporan keuangan kuartal I 2016 dan hasilnya di bawah ekspektasi pasar.


Penurunan kinerja emiten itu seirama  dengan tren pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada kuartal I-2016, ekonomi Indonesia hanya tumbuh  4,92%, lebih lambat daripada kuartal keempat tahun lalu yang sebesar 5,04%.

Sebagai gambaran, kuartal IV 2015, ketika ekonomi tumbuh 5,04%, asing mulai masuk. Tapi akibat pertumbuhan ekonomi awal 2016 di bawah 5%, kini investor berangsur keluar lagi.  Pelaku pasar memandang kinerja emiten belum tentu membaik pada kuartal kedua tahun ini.

Nah, di antara sekian faktor, Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, kinerja keuangan emiten yang tak seusai ekspektasi menjadi alasan investor kabur. Maklum, selama ini kenaikan IHSG dipicu harapan membaiknya kinerja emiten pada kuartal I-2016.

Selain faktor fundamental ekonomi dan emiten, merosotnya saham perbankan  berandil menekan bursa. Niat pemerintah membatasi net interest margin (NIM) disinyalir sebagai biang kerontokan saham perbankan. "Investor asing melihat hal ini sebagai intervensi pemerintah," tutur Teguh, kemarin.

Tak pelak, empat saham bank jumbo: BBCA, BMRI, BBRI dan BBNI masing-masing menyusut 4,55%, 13,20%, 10,97% dan 28,65% dalam setahun terakhir. Padahal, keempat saham ini menguasai kapitalisasi pasar di BEI.

Parningotan Julio, Kepala Riset Millenium Danatama Sekuritas, menilai, saat ini sentimen negatif global dan domestik membayangi IHSG. Namun dia berkeyakinan, arus keluar dana asing tidak berlangsung lama. Begitu ada sentimen positif, khususnya laporan keuangan emiten kuartal kedua, asing bakal masuk lagi.

Apalagi net sell asing tahun ini tak separah tahun lalu. Sejak awal tahun hingga pekan lalu, asing masih mencatatkan net buy Rp 2,89 triliun.

Parningotan yakin, IHSG menembus 5.000 di tahun ini. Teguh juga memprediksi, IHSG tumbuh di 7%-10% kendati ekonomi belum bisa lari kencang. "Level 5.000 bisa dicapai," tandas dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto