KONTAN.CO.DI - JAKARTA. PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (
ELPI) menargetkan pertumbuhan pendapatan hingga 30% pada 2026. Perusahaan jasa pelayaran penunjang industri migas ini membidik pendapatan di kisaran Rp 1,1 triliun hingga Rp 1,3 triliun pada tahun depan. Direktur Utama PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk, Eka Taniputra mengatakan target tersebut meningkat dibandingkan capaian pendapatan perusahaan pada 2025 yang berada di kisaran Rp 1 triliun hingga Rp 1,01 triliun. “Kalau target perusahaan untuk pertumbuhan itu kalau tahun 2025 sekitar Rp 1 triliun atau Rp 1,01 triliun, target kami tahun ini bisa
at least bertumbuh 10%. Jadi sekitar Rp 1,1 sampai Rp 1,3 triliun,” ujarnya dalam paparan publik, Senin (9/3/2026).
Baca Juga: Keamanan Operasional Tinggi Jadi Kunci Keberlanjutan Industri Sekuriti Nasional Menurut Eka, pencapaian target tersebut sangat bergantung pada realisasi rencana penambahan armada yang tengah disiapkan perusahaan. “Jadi ini bisa terjadi apabila memang rencana penambahan kapal itu bisa kita selesaikan atau kami eksekusi
on time. Dan kami cukup
confident bahwa target Rp 1,1 triliun sampai Rp 1,3 triliun ini bisa kami capai di tahun 2026,” katanya. Untuk mendorong pertumbuhan tersebut, ELPI menyiapkan strategi ekspansi melalui diversifikasi bisnis ke segmen
subsea dan Marine, Procurement, Construction and Installation (MPCI). Perusahaan ini telah menyiapkan belanja modal alias
capital expenditure (capex) sekitar Rp 1 triliun untuk mendukung ekspansi tersebut. Dana ini antara lain digunakan untuk pembelian kapal konstruksi serta pengembangan fasilitas di wilayah Batam, Bintan, atau Karimun. “Kami sudah mempersiapkan capex untuk subsea dan MPCI itu kurang lebih sekitar Rp 1 triliun. Kami berharap dengan pembelian kapal
construction dan juga pengembangan fasilitas di Batam, Bintan, atau Karimun bisa memperkuat pertumbuhan pendapatan di 2026,” jelasnya. ELPI menargetkan penyerapan capex tahap awal dapat dilakukan pada semester I 2026. Selanjutnya pada semester II 2026, ELPI juga akan menerima tambahan armada berupa lima unit crew boat serta tiga set tug and barge yang diperkirakan menyerap tambahan capex sekitar Rp 500 miliar. Selain itu, ELPI juga menyiapkan kapal pendukung untuk proyek
floating liquefied natural gas (FLNG) di Teluk Bintuni. Namun kapal pendukung tersebut diperkirakan baru mulai beroperasi pada 2027. Proyek ini diproyeksikan memberikan tambahan pendapatan sekitar Rp 150 miliar hingga Rp 160 miliar per tahun dengan kontribusi laba bersih sekitar Rp 50 miliar hingga Rp 60 miliar per tahun. Di sisi ekspansi pasar, ELPI juga memperkuat penetrasi ke pasar luar negeri yang memiliki prospek industri
offshore yang kuat. Secara regional, Malaysia menjadi salah satu pasar utama.
Baca Juga: Pertamina Hulu Kaltim Genjot Produksi Lewat Pengeboran Sumur Infill Melalui afiliasi NKE Energy, ELPI telah memperoleh sejumlah kontrak dari berbagai perusahaan energi, termasuk Petronas serta proyek bersama dengan Saipem.
Selain Asia Tenggara, perusahaan ini juga mulai menggarap pasar Timur Tengah. Saat ini terdapat dua unit crew boat ELPI yang beroperasi di kawasan tersebut untuk proyek yang berbasis di Sharjah dan Ras Tanura, Arab Saudi. Satu unit kapal berasal dari pembangunan baru di galangan Orela Shipyard, sementara satu unit lainnya direlokasi dari armada ELPI yang sebelumnya beroperasi di Malaysia. Dengan ekspansi armada serta penguatan pasar internasional tersebut, manajemen ELPI optimistis dapat menjaga pertumbuhan kinerja perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News