Pelemahan Properti China Terus Berlanjut, Ada Apa Sebenarnya?



KONTAN.CO.ID - Harga rumah baru di China kembali melemah pada Desember 2025, menegaskan bahwa tekanan di sektor properti Negeri Tirai Bambu masih berlanjut meski pemerintah berulang kali menyatakan komitmennya untuk menstabilkan sektor tersebut.

Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China (NBS) yang dirilis Senin (19/1/2026), harga rumah baru turun 0,4% secara bulanan (month-on-month) pada Desember, sama seperti penurunan yang terjadi pada November.

Secara tahunan (year-on-year), harga rumah baru tercatat turun 2,7% pada Desember. Angka ini lebih dalam dibandingkan penurunan 2,4% pada bulan sebelumnya dan menjadi penurunan tahunan terdalam dalam lima bulan terakhir.


Baca Juga: Bisnis Gaun Pengantin China Bangkit, Tren Nikah Mulai Pulih

“Pelemahan sektor properti ini sejalan dengan ekspektasi kami dan kemungkinan besar akan tetap menjadi penekan utama pertumbuhan ekonomi China dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” ujar analis ekuitas Morningstar, Jeff Zhang.

Data tersebut mengindikasikan bahwa perlambatan di sektor properti berpotensi berlanjut sepanjang tahun ini, kecuali pemerintah meluncurkan kebijakan yang lebih agresif untuk menopang pemulihan pasar.

Dari 70 kota yang disurvei NBS, hanya enam kota yang mencatat kenaikan harga rumah baru pada Desember, sementara 58 kota mengalami penurunan harga.

Selain itu, pasar rumah bekas juga masih tertekan. Harga rumah sekunder di kota tier-1, tier-2, dan tier-3 tercatat mengalami penurunan tahunan yang lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya.

Pemulihan sektor properti dinilai krusial bagi perekonomian China. Kenaikan harga rumah dapat membantu mendorong konsumsi rumah tangga melalui peningkatan persepsi kekayaan dan kepercayaan konsumen, sekaligus membantu mengurangi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di ekonomi secara keseluruhan.

“Memasuki 2026, perbedaan tren di pasar properti China akan semakin melebar,” kata analis Centaline Property, Zhang Dawei.

Baca Juga: Empat Tahun Berturut Populasi China Terus Menurun, Apa Penyebabnya?

Ia memperkirakan harga rumah di kota-kota besar akan berangsur stabil, sementara kota-kota kecil yang minim dukungan industri dan mengalami arus keluar penduduk akan menghadapi proses pengurangan stok properti yang berkepanjangan.

Data resmi terpisah menunjukkan investasi properti di China anjlok 17,2% sepanjang 2025.

Sementara itu, penjualan rumah berdasarkan luas lantai juga turun 8,7% pada periode yang sama.

Transformasi Sektor Properti

Dalam artikel yang dipublikasikan pada 1 Januari di Qiushi, jurnal resmi Partai Komunis China, sektor properti disebut masih menjadi pilar penting perekonomian nasional dan memiliki ruang besar untuk bertransformasi.

Artikel tersebut menyatakan sektor properti tengah mengalami penyesuaian mendalam dan membutuhkan “langkah kebijakan yang kuat” untuk menstabilkan ekspektasi pasar.

Baca Juga: Harga Minyak Stabil, Protes di Iran yang Mereda Menurunkan Peluang Serangan AS

Krisis properti China mulai mencuat sejak pertengahan 2021, menyusul kampanye pemerintah untuk menekan praktik utang berlebihan.

Kondisi ini mendorong sejumlah pengembang besar, seperti Country Garden dan Evergrande, terjerat tekanan keuangan akibat beban utang tinggi dan banyaknya proyek mangkrak.

Regulator keuangan China menyatakan pekan lalu akan mendorong “operasi normal” program pemerintah yang bertujuan mempercepat dukungan pembiayaan bagi proyek perumahan yang memenuhi syarat namun sempat terhenti.

Selanjutnya: Pabrik Ban Raksasa Sailun Hadir di Demak: Cek Besaran UMK/UMR Demak Jateng 2026

Menarik Dibaca: Promo TIX ID Beli 1 Gratis 1, Nonton Film Sebelum Dijemput Nenek Lebih Hemat