KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah berdampak signifikan kepada para pelaku usaha konstruksi. Wakil Sekjen III BPP Gapensi, Errika Ferdinata mengatakan, pelemahan rupiah beberapa bulan terakhir memberikan efek kejut yang langsung terasa pada arus kas kontraktor, sehingga memperlambat ritme operasional di lapangan. "Progres fisik banyak proyek terhambat atau terpaksa dijadwalkan ulang (rescheduling) karena kontraktor kesulitan menebus material yang komponen impornya tinggi, seperti baja, mekanikal, material finishing elektrikal, hingga suku cadang alat," kata dia kepada Kontan, Minggu (12/7/2026). Baca Juga: Gapensi: Pelemahan Rupiah dan Lonjakan Harga Solar Tekan Industri Konstruksi Untuk bertahan dalam kondisi ini, Errika menyebut bahwa pelaku usaha tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional. GapensiĀ mendorong para anggota untuk melakukan sejumlah strategi mitigasi. Pertama, negosiasi termin pembayaran proyek yang fleksibel. Errika bilang, kontraktor perlu proaktif menegosiasikan skema termin pembayaran (progress payment) dengan pemilik proyek (owner). "Alih-alih menggunakan jarak milestone yang panjang, termin bisa dibuat lebih rapat agar cash flow proyek tetap sehat dan dana bisa segera diputar untuk operasional lanjutan," tuturnya. Baca Juga: Gapensi Beri Saran Pelaku Industri Terapkan Mitigasi Begini Saat Rupiah Melemah Kedua, kolaborasi dengan lembaga pembiayaan. Menurutnya, menjalin kerja sama strategis dengan pihak perbankan atau lembaga pembiayaan seperti skema invoice financing atau B2B paylater. Solusi ini dinilai esensial untuk memberikan fleksibilitas termin pembayaran saat membeli material dari supplier, sehingga dapat menyelamatkan napas likuiditas, khususnya bagi kontraktor skala kecil dan menengah. Errika juga mendorong optimalisasi TKDN melalui value engineering. Dia mencermati, pelaku usaha perlu menganalisis ulang desain (rekayasa nilai) untuk mengganti material impor dengan material substitusi buatan dalam negeri yang memiliki TKDN tinggi, tapi dengan kualitas yang setara. "Selain itu, front-loading pembelian. Mengunci (locking) harga material esensial dari pemasok pada awal proyek diperlukan untuk meminimalisir risiko eskalasi harga pada bulan-bulan berikutnya," ujarnya.
Pelemahan Rupiah Beratkan Pelaku Konstruksi, Gapensi Dorong Sejumlah Strategi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menyebut pelemahan nilai tukar rupiah berdampak signifikan kepada para pelaku usaha konstruksi. Wakil Sekjen III BPP Gapensi, Errika Ferdinata mengatakan, pelemahan rupiah beberapa bulan terakhir memberikan efek kejut yang langsung terasa pada arus kas kontraktor, sehingga memperlambat ritme operasional di lapangan. "Progres fisik banyak proyek terhambat atau terpaksa dijadwalkan ulang (rescheduling) karena kontraktor kesulitan menebus material yang komponen impornya tinggi, seperti baja, mekanikal, material finishing elektrikal, hingga suku cadang alat," kata dia kepada Kontan, Minggu (12/7/2026). Baca Juga: Gapensi: Pelemahan Rupiah dan Lonjakan Harga Solar Tekan Industri Konstruksi Untuk bertahan dalam kondisi ini, Errika menyebut bahwa pelaku usaha tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional. GapensiĀ mendorong para anggota untuk melakukan sejumlah strategi mitigasi. Pertama, negosiasi termin pembayaran proyek yang fleksibel. Errika bilang, kontraktor perlu proaktif menegosiasikan skema termin pembayaran (progress payment) dengan pemilik proyek (owner). "Alih-alih menggunakan jarak milestone yang panjang, termin bisa dibuat lebih rapat agar cash flow proyek tetap sehat dan dana bisa segera diputar untuk operasional lanjutan," tuturnya. Baca Juga: Gapensi Beri Saran Pelaku Industri Terapkan Mitigasi Begini Saat Rupiah Melemah Kedua, kolaborasi dengan lembaga pembiayaan. Menurutnya, menjalin kerja sama strategis dengan pihak perbankan atau lembaga pembiayaan seperti skema invoice financing atau B2B paylater. Solusi ini dinilai esensial untuk memberikan fleksibilitas termin pembayaran saat membeli material dari supplier, sehingga dapat menyelamatkan napas likuiditas, khususnya bagi kontraktor skala kecil dan menengah. Errika juga mendorong optimalisasi TKDN melalui value engineering. Dia mencermati, pelaku usaha perlu menganalisis ulang desain (rekayasa nilai) untuk mengganti material impor dengan material substitusi buatan dalam negeri yang memiliki TKDN tinggi, tapi dengan kualitas yang setara. "Selain itu, front-loading pembelian. Mengunci (locking) harga material esensial dari pemasok pada awal proyek diperlukan untuk meminimalisir risiko eskalasi harga pada bulan-bulan berikutnya," ujarnya.