KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan tekanan terhadap kinerja emiten farmasi, termasuk PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Kondisi tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya biaya impor bahan baku aktif atau active pharmaceutical ingredients (API) yang masih didominasi pasokan dari luar negeri. Meski demikian, sejumlah analis menilai dampak pelemahan rupiah terhadap Kalbe Farma relatif lebih terbatas dibandingkan perusahaan farmasi lainnya. Hal ini didukung oleh skala bisnis yang besar, diversifikasi sumber pendapatan, hingga strategi mitigasi risiko yang telah dijalankan perseroan. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah memang berpotensi meningkatkan biaya bahan baku impor sehingga dapat menekan margin kotor perusahaan.
Namun, menurutnya, posisi Kalbe Farma masih cukup kuat menghadapi tekanan tersebut. “Hal ini karena KLBF memiliki skala bisnis yang besar, neraca yang kuat, serta diversifikasi pendapatan dari segmen nutrisi, consumer health, dan distribusi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Baca Juga: IHSG Menguat, Danantara: Investor Kian Percaya Fundamental Ekonomi RI Pandangan serupa disampaikan Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand. Ia menilai tekanan terhadap margin tetap tidak dapat dihindari mengingat sebagian besar bahan baku farmasi Kalbe Farma masih berasal dari impor. Meski begitu, perseroan memiliki sejumlah faktor yang dapat meredam dampak negatif pelemahan rupiah, mulai dari kontribusi ekspor sebagai lindung nilai alami (natural hedge), strategi lindung nilai finansial secara selektif, hingga kontrak pasokan jangka panjang. “Tekanan tidak langsung terasa dalam jangka pendek karena adanya kontrak supply dan strategi hedging,” jelasnya.
Ruang Penyesuaian Harga Masih Terbuka
Dari sisi strategi bisnis, Azis menilai Kalbe Farma masih memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga jual rata-rata atau average selling price (ASP), terutama pada produk-produk bermerek dan segmen consumer health. Namun, kenaikan harga tersebut diperkirakan dilakukan secara bertahap agar perusahaan tetap mampu menjaga daya saing di pasar sekaligus mempertahankan volume penjualan. “Kenaikan harga kemungkinan dilakukan secara gradual karena perseroan tetap perlu menjaga daya saing dan volume penjualan,” katanya. Sementara itu, Abida menyebut ruang penyesuaian harga relatif lebih terbatas pada segmen yang diatur pemerintah, seperti obat generik dan obat resep yang masuk dalam skema BPJS Kesehatan. Di sisi lain, peluang penyesuaian harga dinilai masih cukup terbuka pada produk consumer health dan nutrisi yang memiliki daya tawar harga lebih kuat. “Penyesuaian harga berpotensi dilakukan secara bertahap pada paruh kedua 2026,” ujarnya.
Permintaan Dinilai Tetap Defensif
Meskipun terdapat potensi kenaikan harga jual, kedua analis menilai dampaknya terhadap permintaan dan volume penjualan relatif terbatas.
Azis menjelaskan bahwa produk kesehatan dan nutrisi merupakan kebutuhan yang cenderung bersifat defensif sehingga permintaannya tetap terjaga meski terjadi kenaikan harga. Di sisi lain, Abida menilai permintaan terhadap obat resep bersifat inelastis sehingga relatif stabil walaupun harga meningkat. Adapun pada segmen consumer health, terdapat kemungkinan sebagian konsumen beralih ke produk yang lebih murah atau mengalami downtrading, meski loyalitas terhadap merek tetap menjadi faktor penopang. “Volume relatif terjaga, meskipun ada potensi downtrading ringan di consumer health,” imbuhnya.
Produk Non-Generik Jadi Penopang Profitabilitas
Portofolio produk non-generik juga dinilai menjadi salah satu kekuatan utama Kalbe Farma dalam menjaga profitabilitas di tengah tekanan biaya akibat pelemahan rupiah. Produk bermerek, consumer health, dan nutrisi umumnya menawarkan margin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan produk generik. Dengan komposisi bisnis tersebut, Kalbe Farma dinilai memiliki fleksibilitas yang lebih baik dalam mengelola kenaikan biaya produksi dibandingkan emiten farmasi yang lebih bergantung pada penjualan obat generik. Sejalan dengan prospek tersebut, Azis memberikan rekomendasi trading buy untuk saham KLBF dengan target harga sebesar Rp 790 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News