Pelemahan Rupiah Hantam Industri Farmasi, PYFA Tetap Bukukan Pertumbuhan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis farmasi Indonesia menjadi salah satu industri yang terdampak akibat kondisi pelemahan nilai tukar rupiah ke dolar. 

PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) pun buka suara  atas kondisi yang masih belum jelas hingga saat ini. 

Direktur Utama PYFA, Lee Yan Gwa mengatakan bahwa kondisi saat ini memang berada di luar kemampuan dari perusahaan, khususnya Pyridam Farma.


Pria yang akrab dengan panggilan Gunawan, mengatakan bahwa tak ada yang bisa dilakukan ketika semua bahan baku utama farmasi mengalami kenaikan.

Baca Juga: Mandatori E5 Berlaku Semester II-2026, Bensin di SPBU Bakal Dicampur Bioetanol 5%

"Tapi selama ini kita engga terhambat. Kita coba untuk memperbaiki semua efisiensi, itu pasti," ujar Gunawan dalam acara Peresmian Fasilitas Produksi Injeksi Steril Lini 3 dan Warehouse Ethica Industri Farmasi di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (4/6/2026).

Gunawan menuturkan bahwa dampak kenaikan bahan baku utama farmasi dan pelemahan nilai tukar rupiah saat ini justru tidak berdampak signifikan untuk perusahaannya. 

"Kalau  dilihat laporan keuangan terakhir kan malahan kita growth. Kita growth by 10% gitu. EBITDA juga growth," kata dia.

Dalam catatan keuangan, PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) membuka tahun 2026 dengan kinerja positif. Perseroan mencatat pendapatan neto sebesar Rp 766,53 miliar pada kuartal I 2026, tumbuh 11,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 685,46 miliar. 

Pertumbuhan penjualan tersebut ditopang penguatan portofolio produk farmasi, optimalisasi jaringan distribusi, serta kontribusi yang semakin besar dari bisnis layanan kesehatan terintegrasi yang dikembangkan perseroan.

Di tengah kenaikan biaya bahan baku dan tekanan harga di pasar, PYFA juga berhasil menjaga efisiensi operasional. Hal ini tercermin dari laba bruto yang meningkat 6,9% secara tahunan menjadi Rp192,8 miliar. 

Kinerja profitabilitas pun menunjukkan perbaikan. Nilai EBITDA PYFA tumbuh 30% dibandingkan kuartal I 2025. Margin EBITDA naik menjadi 9,5% dari sebelumnya 8,2%, mencerminkan efektivitas strategi transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu pendorong utama pertumbuhan berasal dari pengembangan produk farmasi berlisensi dengan nilai tambah dan margin yang lebih tinggi. 

Selain itu, layanan Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO) masih menjadi salah satu motor pertumbuhan utama perseroan.

Baca Juga: Pemerintah dan Pengusaha Buka Suara Soal Penundaan Pembelian Batubara oleh China

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News