Pelemahan Rupiah hingga Geopolitik Tekan Industri Asuransi Kesehatan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai dinamika geopolitik dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi sejumlah faktor yang menekan industri asuransi kesehatan saat ini.

Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK, Sumarjono menyebut bahwa sekitar 90% bahan baku obat di Indonesia masih berasal dari impor sehingga sektor kesehatan sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah maupun gejolak ekonomi global.

Selain itu, biaya kesehatan juga semakin mahal seiring perkembangan teknologi medis dan penggunaan alat-alat medis yang semakin canggih.


Baca Juga: Kenaikan BI Rate Picu Risiko Cost of Fund dan NPF, Ini Strategi Multifinance

"Dampaknya tidak berhenti di rumah sakit, dampaknya menjalar ke industri asuransi," ujarnya pada Webinar OJK Institute, Rabu (25/6/26).

Menurut Sumarjono, kenaikan biaya medis ini akan mendorong perusahaan asuransi melakukan berbagai penyesuaian bisnis, termasuk meningkatkan premi.

Dari sisi pemain, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Asuransi Inhealth), Marihot H. Tambunan juga mengatakan hal serupa.

"Industri kesehatan dan farmasi nasional masih sangat banyak atau bahkan dominan alat kesehatan maupun farmasi, termasuk biarpun produksi dalam negeri, tetapi bahan bakunya impor," jelasnya.

Di samping itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga akan memengaruhi biaya tagihan rumah sakit, terutama rumah sakit luar negeri.

Selain itu, perusahaan asuransi juga memanfaatkan teknologi untuk digitalisasi layanan sehingga pembayaran lisensi produk teknologi tersebut sangat dipengaruhi oleh mata uang asing.

Kenaikan harga di industri kesehatan inilah yang akhirnya akan turut memengaruhi struktur biaya perusahaan asuransi sekaligus membuat perusahaan perlu mengevaluasi tarif premi secara berkala.

Baca Juga: RUPST KB Bank Putuskan Laba Ditahan dan Angkat Dua Direktur Baru

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News