Pelemahan Rupiah Ikut Dongkrak Biaya Medis, Ini Strategi Zurich Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah turut memberikan tekanan terhadap biaya perawatan medis. Kondisi ini menjadi tantangan bagi industri asuransi kesehatan karena kenaikan biaya medis berdampak langsung terhadap beban klaim perusahaan asuransi.

Mengenai hal itu, Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (Zurich Indonesia), Musi Samosir, mengatakan kenaikan biaya perawatan medis tidak terlepas dari pergerakan nilai tukar rupiah. Pasalnya, sejumlah komponen dalam layanan kesehatan berkaitan dengan biaya impor.

Menurut Musi, kenaikan biaya medis menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi klaim asuransi kesehatan. Untuk menyikapi kondisi tersebut, Zurich Indonesia menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari memperkuat pencegahan penyakit hingga memanfaatkan teknologi dan data.


Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat layanan preventif atau pencegahan penyakit.

Menurut Musi, perusahaan asuransi tidak cukup hanya memberikan perlindungan finansial ketika nasabah jatuh sakit, tetapi juga perlu mengambil peran dalam menjaga kesehatan nasabah sebelum risiko penyakit terjadi.

Baca Juga: Begini Strategi Zurich Tingkatkan Kinerja Asuransi Perjalanan

"Pada saat orang sakit, kita klaim. Itu tentu saja value dari asuransi, itu janji finansialnya produk asuransi. Tapi pada saat orang masih sehat, apa yang asuransi lakukan?" ujar Musi dalam konferensi pers, Selasa (3/11/2026).

Dia mengatakan, Zurich Indonesia berinvestasi pada pengembangan kemampuan, mobilitas, serta layanan yang dapat diberikan kepada nasabah ketika masih sehat. Upaya ini diharapkan dapat membantu menjaga kondisi kesehatan nasabah sekaligus mengurangi risiko klaim.

Selain pencegahan penyakit, Zurich Indonesia juga memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak dalam ekosistem kesehatan, termasuk rumah sakit. Kolaborasi tersebut bertujuan memahami faktor-faktor yang mendorong kenaikan biaya klaim serta mencari solusi yang dapat menjaga kualitas perawatan pasien dengan biaya yang berkelanjutan.

Strategi berikutnya adalah investasi pada teknologi, terutama penguatan pemanfaatan data. Musi menyebut, data dapat membantu perusahaan mengidentifikasi penyebab tingginya klaim berdasarkan wilayah maupun jenis penyakit.

Baca Juga: Zurich Sebut Fenomena Bencana Alam & Cuaca Ekstrem Potensi Pengaruhi Frekuensi Klaim

Dia menjelaskan, penyakit kronis memang menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap klaim kesehatan. Namun, penyakit dengan biaya penanganan relatif rendah tetapi frekuensi kejadian tinggi juga perlu mendapat perhatian.

Salah satunya adalah influenza dan infeksi saluran pernapasan atas atau upper respiratory tract infection (URTI). Meski biaya penanganan setiap kasus relatif tidak terlalu besar, tingginya frekuensi penyakit tersebut dapat meningkatkan akumulasi klaim.

Sebagai langkah pencegahan, Zurich Indonesia mendorong aktivitas kesehatan seperti vaksinasi. Musi mencontohkan, berdasarkan pengalaman dan data perusahaan, kelompok yang mendapatkan vaksinasi memiliki frekuensi kasus flu lebih rendah.

"Vaksin itu mungkin sekali setahun, dan dari pengalaman dan data yang terdapat, frekuensi dari penyakit flu untuk grup yang divaksinasi itu menurun," jelasnya.

Baca Juga: Peningkatan Penjualan Kendaraan Listrik Berdampak Positif bagi Zurich Asuransi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News