KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi sentimen yang membayangi kinerja emiten, terutama perusahaan dengan kewajiban dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Di pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,55% ke level Rp 17.916 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Depresiasi ini memperbesar potensi kenaikan beban selisih kurs serta biaya pembayaran utang bagi emiten yang memiliki kewajiban utang dalam denominasi dolar. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan pelemahan rupiah memang bisa menambah tekanan ke emiten yang punya utang dolar, terutama kalau pendapatan para perusahaan mayoritas dalam rupiah.
Baca Juga: Emiten Ramai-Ramai Suntik Modal kepada Anak Usaha, Saham Mana yang Menarik? Dampaknya bisa terlihat dari rugi selisih kurs, nilai utang yang menjadi lebih besar kalau dihitung dalam rupiah, dan biaya pembayaran utang yang ikut naik dalam rupiah. "Tapi dampaknya tetap berbeda-beda, tergantung apakah perusahaan punya kas atau penerimaan dolar yang cukup, serta sudah melakukan
hedging atau belum," lata Kevin kepada Kontan, Kamis (24/9/2026). Untuk mengurangi risikonya, Kevin berpendapat bahwa perusahaan tidak harus langsung mengganti semua utang dolar menjadi rupiah. Yang lebih penting ialah menyesuaikan mata uang utang dengan sumber pendapatannya. Apabila pendapatan mayoritas rupiah, mengurangi utang dolar atau melakukan hedging bisa membantu mengurangi risiko kurs. Namun, kalau perusahaan punya penerimaan dolar yang cukup untuk membayar kewajiban dolarnya, utang dolar masih bisa lebih terjaga. "Jadi pindah ke mata uang lain juga belum tentu lebih baik kalau sumber pendapatannya tidak ikut berubah," tambah Kevin. Dari sisi investor, yang perlu dilihat bukan hanya besar utang dolarnya, tetapi juga kemampuan perusahaan untuk membayarnya. "Kami akan lebih hati-hati pada emiten yang punya utang dolar besar, pendapatan mayoritas rupiah, hedging terbatas, dan jatuh tempo utangnya dekat," ujar Kevin. Sebaliknya, kalau perusahaan punya penerimaan dolar yang kuat, kas yang cukup, dan waktu pelunasan yang masih panjang, risiko kurs dan pembayarannya relatif lebih terkendali.
Baca Juga: Emiten Ramai-Ramai Suntik Modal kepada Anak Usaha, Saham Mana yang Menarik? Penyebab Rupiah Melemah Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah tidak disebabkan oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang menahan suku bunga acuan. Menurutnya, pelemahan rupiah lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal, lantaran keputusan BI sebenarnya sudah cukup diantisipasi pasar. Tekanan rupiah masih berasal dari kenaikan indeks dolar Amerika Serikat (DXY,) imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), harga minyak yang masih tinggi serta ketidakpastian geopolitik. Lukman memproyeksikan untuk jangka pendek, rupiah masih akan bergerak volatil dengan kisaran sekitar Rp 17.750–Rp 18.000. Level 18.000 tetap menjadi resistance psikologis yang cukup kuat. "Jika tekanan dari dolar, yield AS dan harga minyak kembali meningkat, level tersebut berpotensi diuji. Sebaliknya, jika tekanan global mereda dan intervensi BI efektif, rupiah bisa kembali bergerak ke bawah 17.800," kata Lukman kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).
Lukman juga menyampaikan bahwa BI dapat melakukan intervensi secara langsung di pasar spot dengan menjual dolar AS dan membeli rupiah. Intervensi
Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik dan
Non-Deliverable Forward (NDF) di offshore market. Selain itu, BI juga dapat menggunakan instrumen moneter seperti SRBI dan SBN untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan mendorong masuknya dana asing. Dalam perkembangan terbaru, BI kembali menegaskan akan mengoptimalkan intervensi melalui spot, DNDF dan NDF.
Baca Juga: UU Reforma Agraria Disahkan, Land Bank Emiten Properti Terancam? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News