KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesian Business Council (IBC) menilai nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan mata uang regional di tengah dinamika global yang relatif seragam. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik memang telah mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang. “Namun, pelemahan rupiah, yang jauh melebihi rata-rata regional, menunjukkan bahwa faktor domestik juga memainkan peran penting,” ujar Denni Purbasari Chief Economist IBC dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/4/2026). Per tanggal 23 April 2026, indeks dolar AS (DXY) telah menguat sebesar 0,32% year-to-date (YTD). Mata uang Asia terdepresiasi rata-rata sekitar 0,31% YTD, relatif sejalan dengan tren global. Sebaliknya, rupiah melemah sebesar 3,59% YTD – menunjukkan risiko spesifik negara.
Pelemahan Rupiah Mencerminkan Meningkatnya Risiko Domestik
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesian Business Council (IBC) menilai nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan mata uang regional di tengah dinamika global yang relatif seragam. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik memang telah mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang. “Namun, pelemahan rupiah, yang jauh melebihi rata-rata regional, menunjukkan bahwa faktor domestik juga memainkan peran penting,” ujar Denni Purbasari Chief Economist IBC dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/4/2026). Per tanggal 23 April 2026, indeks dolar AS (DXY) telah menguat sebesar 0,32% year-to-date (YTD). Mata uang Asia terdepresiasi rata-rata sekitar 0,31% YTD, relatif sejalan dengan tren global. Sebaliknya, rupiah melemah sebesar 3,59% YTD – menunjukkan risiko spesifik negara.