Pelemahan Rupiah Tekan Biaya Proyek, WIKA Perkuat Strategi Mitigasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) terus mencermati pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta fluktuasi harga energi global yang berpotensi meningkatkan biaya pelaksanaan proyek. 

Corporate Secretary WIKA, Ngatemin alias Emin, mengatakan pelemahan rupiah dan fluktuasi harga energi global memang berpotensi memberikan tekanan terhadap biaya pelaksanaan proyek.

"WIKA terus mencermati perkembangan nilai tukar rupiah dan harga energi global yang berpotensi mempengaruhi biaya proyek, khususnya pada komponen energi, logistik, material industri, dan peralatan konstruksi," ujar Emin kepada Kontan.co.id, Senin (15/6). 


Baca Juga: Anggaran Infrastruktur ESDM Tembus Rp 22,47 Triliun, Bahlil Jelaskan Rinciannya!

Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, emiten konstruksi pelat merah ini memperkuat langkah mitigasi risiko melalui sejumlah strategi, antara lain efisiensi operasional, efisiensi operasional, pengendalian biaya, optimalisasi arus kas, serta penguatan manajemen risiko pada proyek-proyek yang dikelola. 

Selain melakukan pengendalian internal, WIKA juga terus berkoordinasi dengan para pemberi kerja guna memastikan pelaksanaan proyek tetap berjalan sesuai rencana meskipun menghadapi dinamika pasar.

Meski menghadapi tantangan dari sisi nilai tukar dan biaya energi, WIKA menyebut target bisnis tahun ini masih berjalan sesuai rencana. Perseroan masih optimistis terhadap pencapaian kontrak baru maupun kinerja operasional sepanjang 2026.

Hingga April 2026, WIKA berhasil membukukan kontrak baru senilai Rp 5 triliun. Perolehan tersebut ditopang oleh segmen Energy & Industrial Plant berkontribusi sebesar 41,59% terhadap kontrak baru, disusul Industry sebesar 28,79%, Infrastructure & Building sebesar 25,12%, serta Property & Investment sebesar 4,49%.

Di tengah persaingan proyek yang semakin ketat dan tekanan biaya yang meningkat, WIKA juga memperketat proses seleksi proyek baru. Peerusahaan mengedepankan prinsip kehati-hatian agar kontrak yang diperoleh dapat memberikan nilai tambah sekaligus menjaga kualitas arus kas.

"Di tengah dinamika pasar saat ini, WIKA menerapkan four eyes principle dan prinsip selektivitas dalam mengikuti tender dan memperoleh proyek baru, dengan fokus pada proyek-proyek yang memiliki skema pembayaran bulanan, tingkat risiko yang terukur, serta mampu memberikan nilai tambah bagi Perseroan," ungkapnya.

Strategi tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas pertumbuhan bisnis di tengah tekanan biaya konstruksi yang masih tinggi akibat pelemahan rupiah dan fluktuasi harga energi. 

Untuk itu, WIKA tetap optimistis dapat mempertahankan kinerja usaha yang berkelanjutan serta mengupayakan pencapaian target kontrak baru, pendapatan maupun laba tahun 2026. 

Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Usulkan Anggaran Rp 27,33 Triliun untuk Pagu Indikatif Tahun 2027

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News