Peluang bisnis ayam khas Makassar



Bisnis makanan olahan ayam kian semarak. Bisnis ini terus kedatangan pemain baru. Banyak juga dari mereka menawarkan waralaba atau kemitraan. Salah satu pemain yang menawarkan kemitraan olahan ayam adalah Priliya Dwinawan, pemilik Ayam Pala di Makassar, Sulawesi Selatan.

Ayam Pala merupakan bisnis makanan cepat saji. Priliya mendirikan usaha ini pada awal tahun 2012. Selang enam bulan kemudian, ia resmi menawarkan kemitraan.

Kuliner olahan ayam ini menghidangkan menu utama ayam bakar dan lontong pala. Menu ayam bakar dibanderol seharga Rp 15.000 per porsi, dan lontong pala Rp 8.000 per porsi. "Harga bisa berubah tergantung wilayah masing-masing," ujar Priliya.


Saat ini, Ayam Pala sudah memiliki empat cabang milik sendiri yang tersebar di Manado dan Makassar. Sementara, cabang mitra sudah ada satu di Bekasi. Ayam Pala juga memiliki lebih dari 10 agen di sejumlah kota.

Agen akan mendapatkan 10% dari profit penjualan, tapi mereka tidak harus memiliki gerai. Bagi yang ingin menjadi mitra, Priliya menawarkan dua paket kemitraan.

Pertama, paket dengan investasi Rp 30 juta. Mitra akan mendapatkan pelatihan mengelola bisnis, banner, komputer kasir, dan promosi pemasaran melalui media online. Mitra menyediakan bahan baku dan tempat sendiri.

Priliya menargetkan, mitra bisa meraup omzet mulai Rp 500.000-Rp 1 juta per hari. Dengan laba 50% dari omzet, mitra bisa balik modal sekitar lima bulan sampai tujuh bulan pasca beroperasi. Mitra yang mengambil paket ini bisa membuka usaha di ruko pinggir jalan dan tempat-tempat strategis lainnya.

Kedua, paket dengan biaya investasi Rp 60 juta. Mitra mendapatkan peralatan yang sama dengan paket pertama. Namun, jumlahnya dua kali lebih banyak.

Namun, tempat dan peralatan lainnya seperti meja, kursi, ditanggung mitra sendiri. Khusus desain interior ditangani kantor pusat, sehingga gerai tampak menarik dan sesuai brand Ayam Pala.

Estimasi omzet per hari sekitar Rp 1,8 juta atau Rp 54 juta per bulan. Bila tempatnya benar-benar strategis, omzet bisa di atas Rp 2 juta per hari. Mitra juga ditargetkan balik modal kurang dari setahun dengan laba 50% dari omzet.

Terkait bahan baku, mitra boleh membeli daging ayam di wilayahnya sendiri. Namun, bumbu harus dibeli dari pusat.  Dengan masa kerjasama selama lima tahun, Priliya juga akan memungut biaya royalti 5% dari omzet.

Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali), Levita Supit menilai, prospek kemitraan makanan olahan ayam masih menjanjikan. Namun, mengingat usaha Ayam Pala baru berjalan sekitar setahun, seharusnya pusat melakukan branding ke masyarakat terlebih dahulu.

Jika, usaha ini sudah dikenal, kesempatan mitra meraup untung semakin terbuka. Pasalnya, tidak semua masakan daerah bisa diterima banyak kalangan.

Misalnya, soto konro dari Makassar yang memang direspon baik oleh masyarakat, termasuk Jakarta. Akan tetapi, masakan daerah lainnya belum tentu mendapat respon serupa. Ayam Pala Perum Hartaco Indah I G/13Tamalate,Makassar, Sulawesi SelatanHP: 085255777664

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri