Peluang Harga Minyak Brent Tembus Level US$ 122, Ini Penopang Utamanya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia berpeluang besar mempertahankan posisinya di level tinggi hingga penutupan tahun 2026, seiring kuatnya kombinasi penopang dari eskalasi militer regional, pembatasan pasokan, hingga lonjakan permintaan musiman.

Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu (2/9/2026) pukul 16.42 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,5% ke posisi US$ 90,67 per barel. Sementara itu, minyak jenis Brent menguat 0,61% ke level US$ 95,23 per barel.

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai, penembusan level psikologis US$ 90 secara teknikal mengonfirmasi fase bullish baru bagi pasar minyak dunia.


Baca Juga: Pasokan Terancam, Harga Minyak Brent Diproyeksi Melesat ke US$ 125

Eskalasi kinetik di sekitar Pulau Larak dan Selat Hormuz tidak lagi dipandang sekadar retorika, melainkan ancaman operasional nyata yang langsung melontarkan tarif asuransi risiko perang (war-risk insurance) serta membuat biaya distribusi minyak global makin mahal.

Di sisi lain, penguatan harga energi ini juga didukung oleh faktor fundamental dan makroekonomi pendukung lainnya.

Aliansi OPEC+ konsisten menjaga kedisiplinan kuota produksi, siklus pemangkasan suku bunga The Fed memperluas likuiditas pasar, persediaan komersial EIA AS terus menyusut, serta tingginya konsumsi minyak distilat menjelang musim dingin di belahan bumi utara pada kuartal IV.

"Peluang harga minyak (terutama Brent) untuk bertahan di atas level US$ 90 per barel hingga akhir tahun sangat besar (probabilitas di atas 70%)," kata Wahyu kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Wahyu memperkirakan harga minyak baru akan konsisten meluncur ke bawah level US$ 90 per barel apabila terjadi kesepakatan de-eskalasi diplomatik secara mendadak yang memulihkan lalu lintas pelayaran, atau jika OPEC+ memutuskan untuk membanjiri pasar dengan kapasitas cadangannya.

Namun, kedua skenario pelemahan tersebut dinilai sulit terealisasi sebelum gelombang pemilu sela (midterms) di AS usai.

Di tengah tingginya dinamika pasar energi saat ini, Wahyu mengingatkan para investor untuk mewaspadai transmisi inflasi impor (imported inflation) ke biaya logistik dan operasional industri, serta tingginya volatilitas harian akibat sentimen berita geopolitik.

Baca Juga: Tensi Geopolitik Memanas, Harga Minyak Berpeluang Bertahan di Atas US$ 90

"Pasar komoditas sangat reaktif terhadap tajuk berita (headline-driven). Sinyal gencatan senjata semu atau ancaman militer baru dapat memicu volatilitas harian 3–5%, sehingga disiplin manajemen risiko dan hedging menjadi krusial dibandingkan dengan spekulasi arah tunggal," ujar Wahyu.

Memasuki sisa tahun 2026, pergerakan minyak jenis WTI diproyeksikan bergerak di rentang skenario dasar (base case) US$ 86,00–US$ 98,00 per barel, dengan titik support kunci di US$ 87,50 dan resistance kunci di US$ 98,50 per barel.

Apabila perang penuh pecah dan rute maritim tertutup total, WTI berpotensi melesat menguji rekor tertinggi tahunan di US$ 105,00–US$ 115,00 per barel.

Sementara itu, minyak jenis Brent diproyeksikan bergerak di rentang skenario dasar US$ 91,00–US$ 104,00 per barel, dengan support kunci di US$ 91,00 dan resistance kunci di US$ 105,00 per barel.

Jika terjadi penutupan jalur laut maritim secara permanen akibat eskalasi militer, harga Brent berpotensi kuat menembus kisaran US$ 110,00–US$ 122,00 per barel pada akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News