Peluang kenaikan harga nikel semakin besar



JAKARTA. Peluang kenaikan harga nikel semakin kuat setelah peraturan dalam audit tambang Filipina semakin ketat. Hal tersebut meningkatkan ancaman penutupan pada tambang bijih nikel di Filipina.

Citigroup memprediksi logam yang digunakan pada produk stainless steel ini dapat menguat hingga ke US$ 11.000 per metrik ton pada kuartal keempat tahun ini dan US$ 11.700 pada tahun 2017.

Mengutip Bloomberg, Selasa (27/9) harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange menguat 0,9% ke level US$ 10.630 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Citigroup menyatakan, pasokan bijih nikel dari Filipina akan semakin ketata di tahun ini dan tahun depan.


Sekretaris Lingkungan Filipina, Gina Lopez menyatakan, 20 tambang nikel Filipina kemungkinan akan diminta untuk menghentikan operasi jika tidak memenuhi kekurangan dalam audit. Dari 20 tambang tersebut, 14 merupakan produsen bijih nikel yang mengirim hingga 157.000 ton nikel tahun lalu.

Sementara tambang yang sudah ditutup memproduksi total 41.000 ton. Secara keseluruhan, ada sekitar 42% dari total produksi bijih nikel Filipina tahun 2015 yang telah ditutup, berdasarkan Morgan Stanley.

Jika perusahaan menyodorkan rencana produksi yang layak kepada pemerintah, "kami memperkirakan dampak audit akan lebih rendah dari sisi volume," ujar analis Citigroup termasuk David Wilson dalam risetnya, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (28/9).

Filipina memasok hampir seluruh impor bijjih nikel China yang merupakan produsen stainless steel terbesar dunia. Sebelas tambang lolos audit pemerintah Filipina. Menurut Wakil Sekretaris Lingkungan Filipina, Leo Jasareno, operasi tambang yang direkomendasikan untuk disuspensi serta tambanag yang sudah ditutup menyumbang 56% dari total output nikel Filipina tahun lalu.

Lebih lanjut, Citigroup menjelaskan, meningkatnya pasokan dari Indonesia, ditambah tingkat persediaan yang tinggi di London Metal Exchange akan meringankan ketatnya pasokan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia