Peluang Menarik Saham Kalbe Farma (KLBF) di Tengah Penurunan Harga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada 2026 dinilai masih menarik meski harga sahamnya terkoreksi 4,45% sepanjang 2025. Koreksi tersebut terjadi di tengah kinerja keuangan yang tetap solid, tercermin dari pertumbuhan laba bersih sebesar 10,63% secara tahunan hingga September 2025.

Head of Research Kisi Sekuritas Muhammad Wafi menilai pelemahan harga saham KLBF justru membuka peluang rerating valuasi. Menurutnya, selama fundamental perusahaan ini tetap terjaga, ruang rebound masih terbuka lebar.

“2026 prospeknya menarik. Koreksi harga di saat kinerja naik membuat valuasi jadi lebih atraktif. Ada potensi rebound selama fundamentalnya masih solid,” kata Wafi kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).


Baca Juga: Dolar AS Melemah, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.768 per Dolar AS

Wafi menilai target pertumbuhan penjualan Kalbe Farma sebesar 6% hingga 8% pada 2026 tergolong realistis dan cenderung konservatif. Stabilnya permintaan dari segmen obat resep yang didorong program Jaminan Kesehatan Nasional, serta ekspansi jaringan distribusi menjadi penopang utama pertumbuhan.

Dari sisi tekanan biaya, Wafi menilai strategi manajemen cukup efektif dalam meredam dampak fluktuasi nilai tukar terhadap bahan baku impor. Perusahaan ini mengandalkan bauran produk dengan margin tinggi, terutama dari segmen nutrisi dan consumer health, untuk menjaga profitabilitas.

Product mix dari segmen margin tebal mampu menetralisir tekanan biaya bahan baku impor,” jelasnya.

Momentum Ramadan juga dinilai berpotensi menjadi katalis kinerja jangka pendek. Secara historis, permintaan multivitamin, minuman energi, dan produk nutrisi cenderung meningkat pada periode tersebut.

Untuk 2026, Wafi memproyeksikan laba bersih KLBF dapat tumbuh sekitar 10% hingga 12% YoY. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp1.750 per saham.

Pandangan senada disampaikan Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan. Ia menilai koreksi saham KLBF sepanjang 2025 lebih dipicu rotasi sektor dan sentimen nilai tukar rupiah, bukan karena penurunan fundamental bisnis.

“Secara kinerja, KLBF masih berjalan baik dengan laba 9 bulan 2025 tumbuh sekitar 10,6% YoY. Di 2026, KLBF tetap menarik sebagai saham defensif di sektor consumer health dan farmasi,” ujar Ekky.

Baca Juga: Permintaan Global Menguat, Harga Logam Industri Naik pada Awal 2026

Namun, ia mengingatkan karakter bisnis Kalbe yang cenderung bertumbuh stabil membuat pergerakan sahamnya tidak seagresif sektor komoditas atau emas yang tengah naik daun.

Terkait target pertumbuhan penjualan 6% hingga 8%, Ekky menilai sasaran tersebut cukup realistis selama konsumsi domestik terjaga dan tekanan biaya tidak ekstrem. Pertumbuhan diperkirakan datang merata dari lini obat resep, produk kesehatan, hingga distribusi.

Soal fluktuasi rupiah, ia menyebut manajemen Kalbe mengandalkan kombinasi natural hedging, pengelolaan pembelian bahan baku, efisiensi biaya, serta penyesuaian harga selektif untuk menjaga margin tetap stabil.

“Kalau rupiah melemah tajam dan lama, tekanan tetap ada. Tapi sejauh ini margin KLBF relatif ketahan,” katanya.

Ekky juga melihat efek musiman Ramadan akan mendukung penjualan produk kesehatan, meski dampaknya lebih bersifat bertahap ketimbang lonjakan besar dalam satu kuartal.

Untuk jangka menengah hingga panjang, ia merekomendasikan akumulasi bertahap saham KLBF di tengah pelemahan harga saat ini, dengan target harga di kisaran Rp1.600 per saham.

Dengan fundamental yang tetap kuat, stabilnya permintaan produk kesehatan, serta strategi mitigasi biaya yang relatif efektif, saham Kalbe Farma dinilai masih memiliki ruang pemulihan pada 2026, meski dengan karakter pertumbuhan yang cenderung defensif dan bertahap.

Baca Juga: BUVA Hingga IRSX Incar Dana Jumbo Lewat Rights Issue, Intip Prospek Sahamnya

Selanjutnya: Tren Warna Biru 2026 dari Dulux, Ini Manfaatnya untuk Hunian

Menarik Dibaca: Tren Warna Biru 2026 dari Dulux, Ini Manfaatnya untuk Hunian

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News