Peluang untuk Menjaring Fulus dari Ekspor Bulus



LABI-LABI atau kura-kura air tawar - juga sering disebut bulus - merupakan salah satu komoditas ekspor perikanan air tawar Indonesia yang cukup potensial saat ini. Soalnya, permintaan dari luar negeri cukup besar setiap tahunnya. Salah satu contohnya adalah permintaan dari China. Permintaan labi-labi untuk konsumsi  warga China dari Indonesia mencapai 30.000 ton per tahunnya. Selain itu,  permintaan dari Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea, Hongkong, Jepang, dan Singapura juga cukup besar. "Permintaan akan labi-labi tergolong tinggi karena selain daging labi-labi lezat, manfaat labi-labi bagi industri juga banyak," ujar Arman Haryanto, pemilik UD Simpati-Tarakan yang ada di Kalimantan. Asal Anda tahu,  labi-labi memang dibutuhkan oleh perusahaan obat dan kosmetik. "Ekstrak labi-labi yang biasanya berupa minyak dijadikan obat untuk sakit asma atau sebagai obat untuk menjaga daya tahan tubuh," imbuh Arman. Selain itu, peminat labi-labi juga memburu ekstrak hati, tulang ataupun agar-agar labi-labi sebagai obat. Menurut Arman, potensi penangkapan labi-labi alam di seluruh Indonesia sejatinya mencapai 500.000 ekor per tahun. Namun, kini jumlah tangkapan baru mencapai 100.000 ekor per tahun. Sebab, cara penangkapanya masih tradisional. Arman sendiri, yang berprofesi sebagai penyalur hasil laut ke eksportir, mengaku bisa menjual lima ton labi-labi alam hasil tangkapan per bulan. Jika dijual hidup, harga labi-labi itu sekitar Rp 28.000 sampai Rp 30.000 per ekor. Tapi, Arman memotong daging labi-labi itu menjadi potongan-potongan mirip fillet. Selajutnya, ia menjual ke eksportir seharga Rp 40.000 per kilogramya (kg). Melimpahnya labi-labi alam di Indonesia membuat budidaya binatang ini masih sangat terbatas. "Di Kalimantan Timur, belum ada yang beternak labi-labi karena hasil tangkapan alam masih melimpah ruah," ujar Arman. Selain itu, informasi tentang budidaya hewan ini masih terbatas. Padahal, dari 30 jenis labi-labi yang ada di dunia, 22 jenis di antaranya hidup di Indonesia. Cuma, dari 22 jenis tersebut, hanya dua jenis yang boleh dikonsumsi dan dibudidayakan. Jenis lainnya termasuk kura-kura dilindungi. Dua jenis tersebut adalah Trionyx cartilagineus dan Trionyx spincer. Kedua jenis bulus ini hidup di perairan sekitar Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Tercatat, kini ada beberapa perusahaan yang mulai membudidayakan labi-labi untuk ekspor. Salah satu perusahaan yang sedang membangun budidaya labi-labi untuk ekspor adalah PT Reap Indonesia di Kuta, Bali. "Di Indonesia, baru ada tiga perusahaan perikanan yang berani berinvestasi di budidaya labi-labi," ujar Peter J., Direktur Reap Indonesia. Maklum saja, investasi usaha ini lumayan besar. "Biaya untuk membuat kolam cor saja, bisa sampai miliaran rupiah," ujar Peter. Namun, menurut Peter, potensi ekspor labi-labi sangat menggiurkan lantaran pihak pembeli di luar negeri berani membayar seharga US$ 20 per kilogram labi-labi. Sekilas tentang budidaya labi-labi, biasanya para peternak mengambil indukan labi-labi dari hasil tangkapan alam. Untuk bisa menjadi indukan, usia labi-labi itu kurang lebih mesti sekitar tiga tahun. Setelah kawin, indukan betina bisa bertelur sampai empat kali dalam setahun. Sekali bertelur, ia bisa mengeluarkan 30 butir telur. Telur-telur tersebut bakal menetas dalam waktu dua bulan. "Karena cuaca Indonesia tergolong panas, labi-labi Indonesia cepat besar sehingga dalam setahun bisa dipanen," ujar Peter. Sementara di negara-negara empat musim, pembesaran labi-labi bisa membutuhkan waktu sekitar dua tahun.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News