Pemakaman Khamenei Digelar Sepekan, Iran Berupaya Yakinkan Dunia Rezim Tetap Kuat



KONTAN.CO.ID - Pemerintah Iran tengah mempersiapkan rangkaian prosesi pemakaman besar-besaran untuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei selama sepekan.

Otoritas Iran berharap upacara tersebut menjadi simbol dukungan publik terhadap Republik Islam sekaligus menunjukkan bahwa rezim masih tetap kokoh setelah perang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Baca Juga: Meski Ada Tekanan Tarif Trump, Perdagangan Uni Eropa-AS Malah Capai Rekor


Mengutip Reuters, Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada awal konflik. Rangkaian pemakaman akan dimulai akhir pekan ini di Teheran, dilanjutkan dengan prosesi akbar di Qom dan Mashhad, serta upacara penghormatan di Irak.

Pemimpin salat Jumat di Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, mengatakan tingginya partisipasi masyarakat dalam prosesi pemakaman akan menjadi bukti dukungan terhadap Republik Islam Iran.

"Besarnya kehadiran masyarakat dalam prosesi pemakaman pemimpin yang gugur syahid dan para syuhada lainnya pada hakikatnya akan menjadi referendum baru bagi Republik Islam," ujarnya kepada media pemerintah.

Untuk memastikan tingginya partisipasi publik, pemerintah Iran menyiapkan berbagai fasilitas, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga konsumsi bagi para pelayat yang diperkirakan mencapai jutaan orang.

Baca Juga: Presiden Korea Selatan Akan Hadiri KTT NATO di Ankara dan Mengunjungi Mongolia

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperlihatkan ketahanan rezim setelah melewati konflik yang mereka anggap sebagai ancaman terbesar terhadap keberlangsungan Republik Islam.

Kematian Khamenei sekaligus menandai babak baru dalam sejarah Iran. Putranya, Mojtaba Khamenei, telah ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan sang ayah.

Namun, Mojtaba yang dilaporkan mengalami luka serius dalam serangan tersebut belum kembali tampil di hadapan publik sejak perang dimulai.

Meski pemerintah berupaya menunjukkan persatuan nasional, sejumlah analis menilai dukungan masyarakat terhadap Republik Islam terus melemah.

Selama bertahun-tahun, Iran menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, inflasi tinggi, serta pembatasan kebebasan sipil.

Kondisi tersebut memicu berbagai aksi protes yang kerap berujung bentrokan dengan aparat keamanan.

Dalam gelombang demonstrasi yang dipicu lonjakan inflasi pada akhir tahun lalu dan awal tahun ini, banyak demonstran bahkan menyerukan agar Khamenei lengser. Pemerintah merespons aksi tersebut dengan tindakan represif untuk membubarkan massa.

Sejumlah warga Teheran juga melaporkan terdengar sorak sorai dari beberapa kawasan permukiman setelah kabar kematian Khamenei pertama kali beredar pada awal perang.

Namun kini suasana ibu kota Iran berubah menjadi lebih tenang dengan pengamanan ketat menjelang prosesi pemakaman.

Baca Juga: Harga Emas Melonjak 1%, Menuju Jalur Penguatan Mingguan Pertama dalam 5 Pekan

Prosesi Pemakaman Digelar di Sejumlah Kota

Dalam sistem politik Iran, pemimpin tertinggi tidak hanya berperan sebagai kepala negara, tetapi juga pemimpin spiritual yang memiliki posisi tertinggi dalam struktur Republik Islam.

Karena itu, kematian Khamenei dalam serangan musuh dipandang sebagai simbol kesyahidan yang memiliki makna penting dalam tradisi Syiah.

Sejak kabar kematiannya diumumkan, berbagai kota di Iran telah dipenuhi bendera hitam dan simbol-simbol berkabung.

Baca Juga: India Izinkan Empat Perusahaan Peralatan Listrik China Ikut Tender Proyek Pemerintah

Pemerintah juga mulai memasang poster-poster dukungan kepada pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, di berbagai sudut Teheran.

Bagi pendukung Republik Islam, prosesi pemakaman memiliki makna emosional yang mendalam.

"Ini adalah hari-hari paling berat dalam hidup saya," kata Mohsen, anggota milisi Basij berusia 24 tahun di Teheran.

"Saya tidak mengalami langsung ketika Imam Khomeini wafat, tetapi ayah saya mengatakan seluruh negeri saat itu tenggelam dalam duka. Hari ini masyarakat juga berduka, terlebih karena pemimpin kami gugur sebagai syahid," ujarnya.

Rangkaian upacara belasungkawa resmi akan dimulai pada Jumat dengan kehadiran sejumlah pejabat tinggi dan tamu negara, termasuk perwakilan dari Rusia dan China.

Pada Sabtu, jenazah Khamenei akan dibawa ke sebuah masjid di Teheran sebagai bagian dari awal prosesi nasional. Jenazah putrinya, menantu laki-lakinya, cucunya, serta istri Mojtaba Khamenei yang juga tewas dalam serangan yang sama akan dimakamkan bersamaan.

Pemerintah Iran telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk para pelayat. Hotel memberikan potongan harga hingga 50%, sementara sekolah, masjid, dan gedung olahraga disiapkan sebagai tempat menginap.

Baca Juga: Menteri keuangan Jepang Siap Mengatasi Volatilitas Yen, Hubungi Otoritas AS

Setelah prosesi utama di Teheran pada Senin, jenazah akan dibawa ke Kota Qom pada Selasa, dilanjutkan ke kota suci Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu.

Prosesi pemakaman akan ditutup pada Kamis di Kota Mashhad, dekat makam Imam Reza, salah satu situs paling suci bagi umat Syiah.

Di tengah rangkaian acara tersebut, aparat keamanan memperketat pengamanan, termasuk memberlakukan pembatasan sementara ruang udara di sejumlah kota besar.

Pemerintah Iran juga memperingatkan akan memberikan respons keras apabila AS atau Israel kembali melancarkan serangan.