KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketidakpastian masih menyelimuti sektor batubara, seiring rencana pemangkasan produksi batubara nasional di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Seperti yang diketahui, belakangan ini beredar data yang mengindikasikan adanya sejumlah emiten raksasa produsen batubara yang mendapat persetujuan RKAB 2026 dari pemerintah tanpa mengalami penurunan kuota produksi. Di antaranya adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melalui PT Adaro Indonesia yang mendapat kuota produksi 60 juta ton pada 2026, kemudian PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia yang raih kuota produksi 74 juta ton, serta PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui PT Kideco Jaya Agung yang raih kuota produksi 30 juta ton.
Baca Juga: Dapat Dukungan Airlangga, OJK Bakal Bentuk Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal Di sisi lain, data tersebut juga menunjukkan adanya beberapa emiten yang mengalami pemangkasan produksi. Contohnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang disebut-sebut mengalami penurunan RKAB hingga 53% menjadi 38 juta ton pada 2026. PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) melalui PT Borneo Indobara (BIB) juga terkena pemangkasan produksi batubara 80% menjadi 11 juta ton. Di samping itu, beberapa anak usaha PT Indo Tambang Raya Tbk (ITMG) seperti PT Bharinto Ekatama, PT Indominco Mandiri, PT Trubaindo Coal Mining, dan PT Nusa Persada Resources juga tercatat mengalami penurunan RKAB dengan kisaran 29% hingga 90%. Direktur ITMG Yulius Gozali mengaku belum bisa berkomentar banyak terkait kabar pemangkasan produksi batubara nasional yang kemungkinan turut menyasar ITMG. “Untuk angka RKAB masih perlu didiskusikan terlebih dahulu dengan banyak pihak terkait,” ujar dia, Kamis (5/2/2026). Direktur BUMI Christopher Fong juga enggan berkomentar terkait rumor persetujuan RKAB produksi batubara perusahaan untuk 2026 lantaran masih menunggu keputusan resmi dari Kementerian ESDM. Yang terang, BUMI berupaya tetap optimal dalam melayani permintaan pelanggan. “Target produksi kami konsisten di kisaran 78 juta - 80 juta ton per tahun,” imbuh dia, Kamis (5/2). Senada, Corporate Secretary & Chief Corporate Communication AADI Ray Aryaputra belum bisa memberikan komentar terkait kepastian target produksi perusahaan pada 2026 lantaran masih menunggu evaluasi dari pemerintah. Baru-baru ini, Kementerian ESDM menyatakan bahwa pemerintah belum menerbitkan persetujuan RKAB batubara 2026, sehingga data-data yang beredar sejauh ini belum bisa dibuktikan kebenarannya. Sebelumnya, pemerintah berencana mengurangi produksi batubara nasional pada 2026 menjadi sekitar 600 juta ton.
Baca Juga: IIMS 2026 Bidik Transaksi Rp 8 Triliun, Astra Maksimalkan Momentum Pameran Terlepas dari itu, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, emiten yang tidak mengalami pemangkasan kuota produksi berpeluang mendapat katalis positif lewat dominasi volume produksi dan penjualan batubara. Sebaliknya, emiten yang terkena pengurangan kuota produksi terancam menghadapi risiko penurunan pendapatan. Menurut Wafi, risiko terbesar emiten yang mengalami pengurangan kuota produksi batubara bukanlah pembatalan kontrak dengan calon pembelian, melainkan penurunan margin laba karena mereka terpaksa membeli batubara dari pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban kontrak. Dalam kondisi seperti ini, emiten-emiten batubara perlu menerapkan disiplin capital expenditure (capex) dengan mengerem pembelian alat berat baru. Capex bisa dialihkan untuk mengoptimalkan stripping ratio. “Strategi
blending kualitas batubara menjadi penting untuk memaksimalkan nilai jual,” tutur Wafi, Kamis (5/2). Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, emiten batubara yang terdampak pemangkasan produksi batubara berpotensi berada dalam posisi yang sulit. Sebab, mereka terancam kehilangan sebagian pendapatan yang bisa saja berdampak pada arus kas perusahaan. “Mau tidak mau efisiensi bisnis harus diterapkan,” katanya, Kamis (5/2). Dari situ, Nafan memperkirakan emiten-emiten batubara yang aktif melakukan diversifikasi bisnis, baik di bidang hilirisasi mineral maupun energi terbarukan, berpeluang tetap unggul kinerjanya di tengah isu pemangkasan produksi batubara nasional. Nafan menyebut saham-saham emiten batubara dari Grup Alamtri cukup menarik untuk dipertimbangkan oleh investor dengan rekomendasi akumulasi beli PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang harganya ditargetkan menyentuh Rp 2.550 per saham.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham JSMR, CPIN, ASII untuk Jumat (6/2) Di lain pihak, Wafi menyebut saham AADI, ADRO, hingga UNTR layak dipertimbangkan oleh investor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News