Pemangkasan RKAB Tekan Penjualan Alat Berat Intraco Penta (INTA)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis alat berat masih dibayangi pelemahan aktivitas pertambangan hingga penghujung 2026. Pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menekan permintaan alat berat, ditambah kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM).

Direktur PT Intraco Penta Tbk (INTA) Willianto Febriansa mengatakan, tekanan tersebut sudah tercermin dalam kinerja penjualan perseroan pada kuartal II-2026.

"Total penjualan INTA selama Q2 tahun 2026 jika dibandingkan dengan periode Q2 tahun 2025 (YoY) mengalami penurunan sebesar 11%," ujar Willianto kepada Kontan, Selasa (25/8/2026).


Menurut dia, pelemahan penjualan juga terjadi pada emiten lain yang bergerak di bisnis alat berat. Kondisi tersebut tidak terlepas dari melemahnya aktivitas pertambangan akibat pemangkasan RKAB.

Willianto menilai, pemangkasan RKAB memberikan dampak yang cukup besar terhadap permintaan alat berat. Pasalnya, pengurangan kuota produksi tambang secara langsung berpengaruh terhadap kebutuhan penggunaan alat berat.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham BRPT, BBCA, dan AMRT untuk Rabu (26/8)

"Dampaknya sangat besar karena dengan adanya pemangkasan RKAB akan mengurangi jumlah produksi dan efeknya mengurangi jumlah pemakaian alat berat," jelasnya.

Tekanan tersebut juga mulai terlihat dari keputusan perusahaan tambang dalam melakukan belanja modal atau capital expenditure (capex). Menurut Willianto, perusahaan tambang cenderung menunda pembelian alat berat baru seiring dengan penurunan kebutuhan produksi.

Selain menahan pembelian unit baru, utilisasi alat berat yang sudah dimiliki perusahaan juga ikut menurun. Hal ini mencerminkan adanya penyesuaian aktivitas produksi di sektor pertambangan.

"Dampaknya terlihat dari penundaan pembelian alat berat baru (capex) dan penurunan jumlah alat berat existing yang dipakai dalam proses produksi," katanya.

Dengan kondisi tersebut, INTA memperkirakan penjualan alat berat pada tahun ini masih akan tertekan. Perseroan memproyeksikan penjualan hingga akhir 2026 menurun dibandingkan dengan realisasi pada 2025.

 
INTA Chart by TradingView

Sebagai informasi tambahan, sepanjang 2025 INTA mencatatkan pendapatan usaha konsolidasian sebesar Rp 966,92 miliar. Angka tersebut naik tipis dibandingkan pendapatan pada 2024 sebesar Rp 954,68 miliar.

Di sisi lain, perseroan berhasil menekan rugi bersih tahun berjalan menjadi Rp 81,09 miliar pada 2025, dari Rp 117,84 miliar pada 2024.

Perbaikan kinerja tersebut didorong oleh sejumlah langkah transformasi, mulai dari peningkatan efisiensi operasional, penguatan tata kelola, optimalisasi portofolio bisnis, hingga pengembangan segmen usaha yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News