KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam agenda Health Working Group Meeting (HWG) I G20 yang dimulai sejak Senin (28/3) lalu di Yogyakarta, Indonesia secara khusus membawa isu Tuberkulosis (TB) pada side event yang berlangsung dari 29-30 Maret. Harapannya, dengan mengusung isu TB di pertemuan tingkat tinggi internasional, Indonesia bisa mendorong kembali komitmen negara-negara lain untuk kembali ke jalur yang tepat dalam upaya mengeliminasi TB pada 2030. TB hingga saat ini masih menjadi pandemi di dunia dan menginfeksi 10 juta penduduk dunia tiap tahunnya. Dua pertiga dari jumlah tersebut disumbangkan oleh negara-negara anggota forum G20. Kematian akibat TB di negara-negara anggota G20 pun mencapai 4.100 orang per harinya. Sementara itu, investasi untuk respon penanggulangan dan penelitian TB jumlahnya 30% lebih sedikit dibandingkan pengidap TB yang tidak sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. “Hal ini harus kita ubah. Kita harus lebih fokus untuk memperhatikan pasien TB, keluarganya, dan lingkungannya. Kita harus berinvestasi lebih cerdas lagi untuk menanggulangi penyakit menular mematikan ini dan mengakhiri pandemi TB di tahun 2030,” ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam keterangannya, Rabu (30/3).
Pembahasan Tuberkulosis di Forum G20 Disebut Jadi Langkah Kongkrit untuk Eleminasi TB
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam agenda Health Working Group Meeting (HWG) I G20 yang dimulai sejak Senin (28/3) lalu di Yogyakarta, Indonesia secara khusus membawa isu Tuberkulosis (TB) pada side event yang berlangsung dari 29-30 Maret. Harapannya, dengan mengusung isu TB di pertemuan tingkat tinggi internasional, Indonesia bisa mendorong kembali komitmen negara-negara lain untuk kembali ke jalur yang tepat dalam upaya mengeliminasi TB pada 2030. TB hingga saat ini masih menjadi pandemi di dunia dan menginfeksi 10 juta penduduk dunia tiap tahunnya. Dua pertiga dari jumlah tersebut disumbangkan oleh negara-negara anggota forum G20. Kematian akibat TB di negara-negara anggota G20 pun mencapai 4.100 orang per harinya. Sementara itu, investasi untuk respon penanggulangan dan penelitian TB jumlahnya 30% lebih sedikit dibandingkan pengidap TB yang tidak sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit. “Hal ini harus kita ubah. Kita harus lebih fokus untuk memperhatikan pasien TB, keluarganya, dan lingkungannya. Kita harus berinvestasi lebih cerdas lagi untuk menanggulangi penyakit menular mematikan ini dan mengakhiri pandemi TB di tahun 2030,” ujar Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam keterangannya, Rabu (30/3).