Pembatasan Minimarket ke Desa Bayangi Saham AMRT, Simak Kata Analis



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Wacana pembatasan ekspansi ritel modern ke wilayah pedesaan dinilai berpotensi menekan sentimen saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dalam jangka pendek. Meski demikian, dampak terhadap fundamental perseroan diperkirakan relatif terbatas.

Seperti diketahui, pemerintah memiliki wacana untuk membatasi minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret beroperasi di wilayah pedesaan demi memberi jalan bagi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih supaya bisa makin eksis.


Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, pertumbuhan AMRT masih dapat ditopang oleh pertumbuhan penjualan gerai yang sama (same store sales growth/SSSG), optimalisasi gerai eksisting, serta kekuatan jaringan rantai pasok (supply chain) yang telah terintegrasi dengan baik.

Baca Juga: Wacana Pembatasan Minimarket, Begini Rekomendasi Saham Alfamart (AMRT)

Apalagi, AMRT memandu outlook 2026 dengan pertumbuhan same-store sales growth (SSSG) mid-single digit serta penambahan 1.000 gerai, yakni 800 Alfamart dan 200 Alfamidi, yang memperkuat trajektori ekspansi stabil perseroan.

“Pembatasan ekspansi desa bisa memengaruhi sentimen jangka pendek, tetapi secara fundamental ruang pertumbuhan masih terbuka,” ujar Azis kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).

Menurutnya, sejumlah katalis berpotensi menopang kinerja AMRT pada 2026. Di antaranya ekspansi gerai yang tetap berjalan, pemulihan daya beli masyarakat, peningkatan kontribusi produk private label dengan margin lebih tinggi, serta stabilitas inflasi dan suku bunga yang menjaga konsumsi produk fast moving consumer goods (FMCG).

 
AMRT Chart by TradingView

Di sisi valuasi, Azis menilai price to earnings ratio (PER) AMRT saat ini telah berada di bawah minus dua standar deviasi (SD-2). Secara teknikal, kondisi tersebut membuka peluang terjadinya rebound.

“Kami lebih menyarankan wait and see. Bisa dicermati jika terjadi technical rebound, dengan asumsi target apabila kembali ke area SD-2 berada di level 1.695,” jelasnya.

Dengan mempertimbangkan dinamika sentimen dan faktor teknikal tersebut, investor disarankan tetap mencermati perkembangan kebijakan pemerintah serta pergerakan harga saham dalam jangka pendek.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News