KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Meskipun kinerja kredit industri perbankan tergolong lesu, bank syariah berhasil mendorong laju pertumbuhan pembiayaan tahun lalu. Tahun lalu, kredit industri perbankan tak berhasil tumbuh
double digit. Bank Indonesia (BI) mencatat level pertumbuhan kredit cuma mencapai 9,69% secara tahunan, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhannya hanya 9,63% yoy. Kendati begitu, rupanya pembiayaan sejumlah bank syariah kompak tumbuh
double digit. Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai pemain terbesar, misalnya. Hingga akhir tahun lalu, pembiayaan BSI tumbuh 14,49% yoy menjadi Rp 318,84 triliun.
Baca Juga: Tekanan Kredit Bermasalah Picu Penarikan Kendaraan di Lapangan Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyebut, distribusi pembiayaan bank tahun lalu didominasi oleh segmen pro-kerakyatan, mencakup pembiayaan konsumer, UMKM, dan komersial, dengan nilai
outstanding mencapai Rp 285,70 triliun atau 90% total
outstanding pembiayaan. Menurut Wisnu, kinerja ini pada dasarnya ditopang oleh
privilege bank sebagai
dual license sebagai bank syariah dan bank emas. “Ini memberikan ruang yang lebih besar untuk penyaluran pembiayaan di berbagai segmen,” kata Wisnu kepada Kontan, Jumat (27/2/2026). Secara segmen, BSI bilang pembiayaan konsumer masih mendominasi dengan komposisi mencapai 55,13%. Pun, pihaknya optimistis pertumbuhan tahun ini solid karena
new engine BSI sebagai bank syariah dan bank emas menjadi
one stop solution untuk nasabah. Mulai dari bisnis emas, haji dan umrah, serta halal ekosistem lainnya, menjadi keunikan yang hanya dimiliki bank syariah. Itu bakal didorong juga dengan peningkatan digitalisasi layanan melalui berbagai e-channel sebagai akses
gate awal pembiayaan di BSI. BCA Syariah juga mencatatkan kinerja pembiayaan apik, dengan pertumbuhan hingga 23% yoy senilai Rp 13,2 triliun. Secara komposisi, pembiayaan komersial juga mendominasi senilai Rp 10,1 triliun atau tumbuh 20,3% yoy. Namun, kinerja pertumbuhan terbaik dicetak oleh pembiayaan konsumer, yang mencapai 47,1% yoy menjadi Rp 2,1 triliun. Segmen ini ditopang oleh pembiayaan pembelian rumah yang mencapai Rp 1,52 triliun atau tumbuh 24,7% yoy. Namun, kinerja pembiayaan emas tumbuhnya mencapai 238,2% yoy menjadi Rp 520 miliar. Presiden Direktur BCA Syariah Yuli Melati Suryaningrum bilang pihaknya membidik pertumbuhan
double digit tahun ini. Untuk mencapai target tersebut, pihaknya menyiapkan berbagai strategi mulai dari penguatan fitur digital, ekspansi layanan ritel dan korporasi, serta strategi pembiayaan yang selektif untuk menjaga kualitas aset.
Baca Juga: Bank Mega Syariah Jalin Kerjasama dengan PT Berdikari Sediakan Tabungan Kurban Tak jauh berbeda, Bank Mega Syariah mencatatkan pertumbuhan pembiayaan lebih dari 20% yoy hingga akhir tahun lalu.
Corporate Secretary Bank Mega Syariah Hanie Dewita menyebut pertumbuhan itu utamanya didorong oleh peningkatan signifikan pada segmen komersial serta produk konsumer.
Selain itu, Hanie bilang penetrasi Syariah Card yang terus tumbuh positif turut menjadi katalis penting. “Ini menjadi solusi transaksi syariah modern, sekaligus memperkuat basis nasabah ritel dan ekosistem bisnis bank,” kata Hanie. Tahun ini bank memproyeksi pembiayaan bakal tetap tumbuh positif dengan pendekatan yang sehat dan berkelanjutan. Salah satu katalis penting yang mempengaruhi adalah perluasan dan aktivasi ekosistem grup secara menyeluruh. Selain itu, pengembangan sektor kesehatan dan pendidikan secara end-to-end, penguatan ritel sebagai
growth engine, serta strategi
relationship-driven di seluruh cabang diyakini mampu mendorong kinerja pembiayaan syariah bank. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News