Pembiayaan Berisiko Naik Imbas Bencana, BSI Perkuat Pencadangan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat kenaikan pembiayaan berisiko (financing at risk/FaR) pada akhir 2025 yang dipengaruhi kebijakan relaksasi bagi nasabah terdampak bencana, khususnya di Provinsi Aceh.

Meski demikian, BSI memastikan kualitas pembiayaan tetap terjaga dan langkah mitigasi risiko terus diperkuat melalui peningkatan pencadangan. 

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 penyaluran pembiayaan BSI tetap tumbuh positif mencapai Rp 318,84 triliun atau naik 14,49% secara tahunan (year on year/yoy).


Dari total tersebut, sekitar Rp 285,70 triliun atau 90% disalurkan ke segmen pro-rakyat, seperti UMKM, mikro, konsumer, hingga sektor komersial di bidang pendidikan dan kesehatan, serta pembiayaan ke aparatur sipil negara (ASN) dan BUMN.

Baca Juga: BSI Pastikan Layanan Tetap Jalan Saat Lebaran, Siapkan Rp45 Triliun Uang Tunai

Dari sisi kualitas pembiayaan juga terjaga dengan NPF gross di level 1,81%, turun dari posisi 1,9% pada tahun sebelumnya. Wisnu bilang sejak merger BSI mampu menjaga level FaR rata-rata di kisaran 7%. 

Namun, pada akhir 2025 rasio tersebut meningkat menjadi 9,2%. Menurut Wisnu, kenaikan ini terutama berasal dari segmen ritel UMKM dan konsumer. Hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan bank dalam mendukung pemulihan masyarakat di wilayah terdampak bencana.

“Peningkatan terjadi menyusul kebijakan relaksasi dan restrukturisasi pembiayaan bagi nasabah terdampak bencana di Aceh,” jelasnya kepada Kontan, belum lama ini. 

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, BSI memberikan keringanan berupa penundaan pembayaran angsuran selama tiga bulan, terhitung sejak Desember 2025 hingga Maret 2026.

Seiring dengan meningkatnya risiko, BSI juga memperkuat pencadangan. Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko dari portofolio di wilayah terdampak.

Baca Juga: BSI Berangkatkan 2.261 Peserta Mudik Gratis BSI dengan 44 Armada Bus

“Portofolio kita di Aceh cukup besar, jadi kita antisipasi di sana. Kita lebih prudent di sisi impairment,” ujarnya.

Meski demikian, Bob menegaskan bahwa peningkatan pencadangan tak serta merta berlanjut sepanjang tahun ini. Saat ini, perseroan masih melakukan evaluasi terhadap kondisi portofolio di Aceh.

“Sekarang masih dalam proses review, tapi pencadangan memang lebih difokuskan ke Aceh,” tambahnya.

Secara nominal, impairment BSI tercatat sebesar Rp 2,46 triliun per Desember 2025, meningkat dari Rp 1,99 triliun pada tahun sebelumnya. Namun, pada Februari 2026, nilai impairment tercatat Rp 439,37 miliar, menurun dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 487,25 miliar.

Dengan strategi tersebut, BSI berupaya menjaga keseimbangan antara ekspansi pembiayaan dan kualitas aset, sekaligus memastikan ketahanan kinerja di tengah tekanan risiko yang bersifat temporer akibat faktor bencana.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News