KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Komitmen industri perbankan terhadap pembiayaan berkelanjutan terus menguat seiring meningkatnya kebutuhan pendanaan untuk sektor-sektor ramah lingkungan. Sejumlah bank nasional mencatat pertumbuhan signifikan pada portofolio pembiayaan hijau hingga paruh pertama 2026, didorong oleh dukungan regulasi serta meningkatnya kesadaran dunia usaha terhadap standar keberlanjutan global. Salah satu bank yang mencatatkan pertumbuhan tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Hingga Juni 2026, outstanding pembiayaan berkelanjutan BCA mencapai Rp 267 triliun, meningkat 11,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilai tersebut setara dengan 25,9% dari total outstanding kredit perseroan pada periode yang sama.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan pembiayaan hijau yang naik 19% yoy menjadi Rp 123 triliun. Penyaluran pembiayaan hijau BCA tersebar ke berbagai sektor strategis. Pembiayaan untuk energi terbarukan mencapai Rp 7,7 triliun atau melonjak 82% yoy. Sementara itu, pembiayaan untuk gedung hijau mencapai Rp 6,5 triliun atau tumbuh 14% yoy, pengelolaan air limbah sebesar Rp 5 triliun atau naik 12% yoy, serta pembiayaan kendaraan listrik mencapai Rp 4 triliun atau meningkat 25% yoy.
Baca Juga: OJK Kaji Aturan Tarif Premi Asuransi Kendaraan Listrik, Fokus Bahas Pengumpulan Data Kinerja tersebut turut didukung oleh anak usaha perseroan, BCA Syariah. Hingga Juni 2026, BCA Syariah membukukan pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp 2,9 triliun atau setara 21,7% dari total pembiayaan perusahaan. Dari jumlah tersebut, pembiayaan hijau mencapai Rp 1,43 triliun. Direktur BCA Syariah Pranata menjelaskan pembiayaan hijau tersebut disalurkan ke tujuh sektor, yakni efisiensi energi, energi terbarukan, pencegahan dan pengendalian polusi, pengelolaan sumber daya alam hayati yang berkelanjutan, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan air dan air limbah berkelanjutan, serta kegiatan eco-efficient. Secara khusus, BCA Syariah mencatat pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik sebesar 45,2% sejak awal tahun. Pranata menilai dukungan regulator serta meningkatnya kesadaran pelaku industri dalam memenuhi standar pasar global menjadi pendorong utama pertumbuhan pembiayaan hijau di Indonesia. “Kami akan terus berupaya meningkatkan portofolio pembiayaan di semua segmen baik komersial, konsumer dan UMKM dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian,” ujar Pranata kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).
Bank Mandiri Perluas Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan
Dari kelompok bank milik negara, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk juga terus memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam strategi bisnisnya melalui pengembangan sustainable banking.
Baca Juga: Ekspor RI Tumbuh, OJK: Berpotensi Berdampak Positif bagi Asuransi Perdagangan Hingga Juni 2026, portofolio pembiayaan berkelanjutan Bank Mandiri tercatat mencapai Rp 327 triliun atau tumbuh 7,5% yoy. Direktur Risk Management Bank Mandiri Danis Subyantoro mengatakan, dari total portofolio tersebut, pembiayaan hijau mencapai Rp 173 triliun atau meningkat 9,8% secara tahunan.
Penyaluran pembiayaan hijau Bank Mandiri didominasi sektor agrikultur berkelanjutan senilai Rp 117 triliun. Selain itu, pembiayaan juga mengalir ke sektor energi terbarukan sebesar Rp 13 triliun, produk eco-efficient Rp 16,2 triliun, kendaraan listrik Rp 10,5 triliun, pengelolaan air limbah Rp 5,9 triliun, serta bangunan hijau Rp 9,9 triliun. Selain memperbesar portofolio pembiayaan hijau, Bank Mandiri juga menjalankan strategi keberlanjutan melalui implementasi sustainable operation yang berfokus pada penurunan emisi operasional, serta program Sustainability beyond banking untuk memperkuat inklusi keuangan. “Komitmen ini diperkuat lewat fitur keberlanjutan bagi segmen ritel, yaitu Livin' Planet, yang memungkinkan nasabah membeli Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dan diperdagangkan melalui IDXCarbon,” imbuh Danis. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News