Pembiayaan Kendaraan Listrik Berpotensi Tumbuh, Berikut Tantangan yang Membayangi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pembiayaan kendaraan listrik dinilai berpotensi terus berkembang seiring perubahan menuju energi terbarukan dan makin terbentuknya ekosistem kendaraan listrik.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan perkembangan kendaraan listrik akan berjalan mengikuti perubahan industri otomotif secara global. Selain itu, pertumbuhan kendaraan listrik juga akan didukung oleh berbagai insentif atau stimulus dari pemerintah.

Ia mencontohkan perkembangan mobil listrik yang saat ini lebih dahulu terbentuk dibandingkan motor listrik. Menurutnya, mobil listrik telah memiliki pasar yang lebih kuat.


"Motor listrik pastinya akan sejalan dengan perubahan yang terjadi di seluruh dunia. Kalau kita lihat, mobil listrik saat ini porsinya lebih besar dibandingkan motor listrik," ujarnya, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: BCA Tawarkan Bunga KPR Mulai 1,23%, Ini Tips Agar Cicilan Tetap Aman

Hal ini terlihat dari dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per semester I-2026, pembiayaan kendaraan bermotor roda empat hybrid tembus Rp11,97 trilliun, kemudian pembiayaan kendaraan bermotor roda empat listrik mencapai Rp8,69 triliun. Sementara itu, pembiayaan kendaraan bermotor roda dua hybrid mencapai Rp3,64 dan pembiayaan kendaraan bermotor roda dua listrik baru mencapai Rp310 miliar.

Kendati begitu, seiring harga kendaraan listrik yang makin terjangkau, pembiayaan juga berpotensi mengambil peran lebih besar dalam mendorong kepemilikan kendaraan listrik. Namun, pertumbuhan tersebut membutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari produsen, dealer hingga pasar kendaraan bekas.

Sementara itu, ia menilai perkembangan pembiayaan motor listrik masih tidak semudah mobil listrik. Salah satu tantangan utamanya adalah kesiapan infrastruktur pengisian daya, terutama untuk penggunaan jarak jauh.

Apalagi di Indonesia pengguna motor tidak hanya memanfaatkannya untuk mobilitas dalam kota saja, tetapi juga perjalanan jarak jauh misalnya mudik. Kondisi itu membuat ketersediaan fasilitas pengisian daya menjadi faktor penting dalam mendorong adopsi motor listrik.

Baca Juga: OJK Ungkap 3 Tantangan yang Mengintai Bank Digital, Ada Ancaman Siber dan AI

Di sisi lain, nilai jual kembali kendaraan listrik juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Katanya, produsen, pabrikan, dealer, dan pelaku industri lainnya perlu membangun ekosistem yang bisa mendukung terbentuknya pasar kendaraan listrik, termasuk dari sisi resale value.

Oleh karena itu, untuk adopsi kendaraan listrik yang lebih matang perlu dukungan dari berbagai pihak agar kebutuhan tersebut bisa segera terpenuhi seiring meningkatnya penggunaan motor listrik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News